Gartika, Gartika
LPPM Universitas BSI

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENYAJIAN RELASI KEKUASAAN DALAM NOVEL A FINE BALANCE KARYA ROHINTON MISTRY Gartika, Gartika
Jurnal Ecodemica: Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Bisnis Vol 4, No 3 (2016): JURNAL ECODEMICA
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31311/jeco.v4i3.5160

Abstract

Dalam penelitian ini, akan dibahas relasi kekuasaan yang ada dalam movel A Fine Balance karya Rohinton Mistry, seorang penulis Canada keturunan India. Relasi kekuasaan akan dibahas menggunakan teori kekuasaan oleh Michel Faucoult, yang menyatakan bahwa relasi kekuasaan dapat terjadi jika ada bentuk institusionalisai, sistem pembeda, jenis tujuan, dan mode intrumental. Keberhasilan kekuasaan melibatkan penggunaan mode instrumental, seperti pembangkangan sebagai strategi pertahanan diri yang digunakan oleh seseorang yang menjadi subjek kekuasaan pihak lain. Kekuasaan hanya dapat digunakan pada objek yang bebas, selama pihak tersebut ‘bebas’. Kekuasaan yang digunakan mencakup satu elemen penting: kebebasan. Elemen kekuasaan lain adalah alat yang digunakan dalam penggunaan kekuasaan, seperti penggunaan kekerasan. Di sisi lain, terlepas dari fungsinya sebagai alat penggunaan kekuasaan, kekerasan dapat dilihat sebagai hasil dari relasi kekuasaan. Dalam A Fine Balance, relasi kekuasaan dapat dilihat dari hubungan saudara, Dina Dalal dan Nusswan Shroff, yang terjadi dalam institusi keluarga. Sistem pembeda terletak pada kedudukan Nusswan Shroff sebagai kakak yang memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan Dina Dalal, sang adik. Meskipun demikian, baik Dina Dalal dan Nusswan Shroff sama-sama memiliki kekuasaan pada tingkat yang berbeda. Tujuan Dina Dalal dalam relasi kekuasaan yang diperlihatkannya adalah untuk memiliki kebebasan dalam mengatur hidupnya sendiri tanpa kekangan sang kakak, cara atau mode instrumental yang digunakan adalah dengan cara berkompromi dengan aturan-aturan sang kakak agar mendapatkan rasa aman dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi lain, Nusswan Shroff sebagai kakak merasa memiliki kewajiban untuk mengatur adiknya, dengan menggunakan kekerasan dalam menerapkan aturan dengan cara menampar atau memukul menggunakan penggaris.