Kehilangan anggota keluarga akibat kematian dapat menimbulkan kedukaan mendalam, terutama pada individu dewasa awal yang sedang berada dalam fase transisi perkembangan menuju kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas narrative therapy dalam menurunkan tingkat kedukaan pada individu dewasa awal yang mengalami kehilangan kakak kandung. Penelitian menggunakan pendekatan single subject research (SSR) dengan desain eksperimen kasus tunggal. Subjek penelitian adalah seorang mahasiswa berusia 22 tahun yang mengalami kedukaan berkepanjangan pasca kematian kakak kandung. Intervensi narrative therapy dilaksanakan secara individual dalam lima sesi yang meliputi tahapan eksternalisasi masalah, eksplorasi cerita, re-authoring, re-membering conversation, dan follow up. Pengukuran tingkat kedukaan dilakukan menggunakan Inventory of Complicated Grief (ICG) pada tahap pra-intervensi, pasca-intervensi, dan tindak lanjut. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor ICG secara signifikan dari kategori bermasalah menjadi tidak bermasalah. Secara kualitatif, subjek menunjukkan perubahan positif dalam memaknai kehilangan, mampu memisahkan identitas diri dari masalah kedukaan, mengenali kekuatan diri, serta membangun narasi hidup yang lebih adaptif dan bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa narrative therapy efektif dalam membantu individu dewasa awal memproses kedukaan secara adaptif. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyoroti intervensi kedukaan pada konteks kehilangan saudara kandung, meskipun keterbatasan jumlah subjek menuntut penelitian lanjutan dengan desain dan sampel yang lebih luas.