Although the implementation of the Merdeka Curriculum has introduced Natural and Social Sciences (IPAS) as a holistic subject in elementary schools, research that specifically examines the dynamics of students’ intrinsic motivation through interactive technology in rural contexts remains very limited. This study aims to analyze the role and effectiveness of interactive media based on Articulate Storyline 3 in fostering learning motivation among sixth-grade students at SDN 2 Cikawung, Banyumas. A qualitative approach was employed using a case study design, involving teachers, sixth-grade students, and the school principal as participants selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth participant observation, semi-structured interviews, and documentation studies, and then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings indicate that prior to the intervention, teacher-centered learning led to significant student passivity. However, the integration of Articulate Storyline 3 provided visual and interactive stimuli that fulfilled students’ psychological needs for autonomy and competence. The results demonstrate a transformation of the learning atmosphere into a more participatory environment, with consistent increases in students’ persistence and curiosity. This study concludes that interactive media play a crucial role in bridging the gap between abstract scientific concepts and the concrete operational cognitive stage of elementary school students. ABSTRAK Meskipun implementasi Kurikulum Merdeka telah memperkenalkan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) sebagai mata pelajaran holistik di sekolah dasar, penelitian yang secara khusus membahas dinamika motivasi intrinsik siswa melalui teknologi interaktif dalam konteks pedesaan masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan efektivitas media interaktif berbasis Articulate Storyline 3 dalam mendorong motivasi belajar siswa Kelas VI di SDN 2 Cikawung, Banyumas. Pendekatan kualitatif digunakan dengan desain studi kasus, melibatkan guru, siswa kelas VI, dan kepala sekolah sebagai partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan yang mendalam, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa sebelum intervensi, pembelajaran yang berpusat pada guru memicu pasivitas siswa yang signifikan. Namun, integrasi Articulate Storyline 3 memberikan stimulus visual dan interaktif yang memenuhi kebutuhan psikologis siswa akan otonomi dan kompetensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya transformasi atmosfer belajar menjadi lebih partisipatif, di mana indikator ketekunan dan rasa ingin tahu siswa meningkat secara konsisten. Studi ini menyimpulkan bahwa media interaktif berperan krusial dalam menjembatani kesenjangan antara konsep ilmiah yang abstrak dengan tahapan kognitif operasional konkret siswa sekolah dasar.