Telaumbanua, Damai Serta
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PASIEN RHEUMATHOID ARTHRITIS Siregar, Rinco; Simanjuntak, Siska Evi M; Telaumbanua, Damai Serta
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i4.3527

Abstract

Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun inflamasi kronik yang ditandai dengan nyeri sendi persisten dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderita. Manajemen nyeri umumnya dilakukan secara farmakologis, namun penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, diperlukan terapi komplementer non-farmakologis yang aman dan efektif, salah satunya adalah pijat refleksi kaki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pijat refleksi kaki terhadap intensitas nyeri pada pasien rheumatoid arthritis. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimen dengan pendekata pretest-posttest. Sampel penelitian terdiri dari 15 pasien rheumatoid arthritis yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa pijat refleksi kaki diberikan sesuai dengan prosedur standar selama 4 minggu 1 kali seminggu. Tingkat nyeri diukur menggunakan instrument Pain Numeric Rating Scale sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri pada pasien rheumatoid arthritis setelah diberikan pijat refleksi kaki, rata-rata skor nyeri seudah diberikan pijat refleksi 3.80 (SD=0.862) dari rata-rata sebelumnya 8.53 (SD=0.816). Secara statistik, pijat refleksi kaki memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri dibandingkan sebelum intervensi (Z=-3.493, P=0.00, < 0.05). Pijat refleksi kaki berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada pasien rheumatoid arthritis dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer dalam manajemen nyeri. Intervensi ini berpotensi menjadi alternatif non-farmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan mendukung peningkatan kualitas hidup pasien.