Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a crucial role in the rural economy; however, many MSME actors have not yet implemented systematic financial record-keeping. The main issues faced by MSMEs in Jubung Village include a low level of understanding and application of financial recording practices, as well as the commingling of personal and business finances. This community service activity aims to optimize MSME financial record-keeping through assistance-based interventions. The study employed a descriptive qualitative approach, consisting of observation, interviews, training, and individual mentoring conducted with ten targeted MSMEs. The results indicate an improvement in both understanding and implementation of financial recording practices, as seven out of ten MSMEs began to apply financial record-keeping, either comprehensively or limited to income statements and cash flow records. The assistance in simple financial record-keeping proved effective in helping MSME actors monitor their business financial conditions and support informed business decision-making. Nevertheless, some MSMEs continue to experience challenges in separating personal and business finances, indicating the need for ongoing assistance to ensure the sustainability of financial record-keeping practices.. ABSTRAK Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian desa, namun masih banyak pelaku UMKM yang belum menerapkan pencatatan laporan keuangan secara sistematis. Permasalahan utama yang dihadapi UMKM di Desa Jubung adalah rendahnya pemahaman dan penerapan pencatatan keuangan, serta masih tercampurnya keuangan pribadi dan usaha. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan pencatatan laporan keuangan UMKM melalui kegiatan pendampingan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan tahapan observasi, wawancara, pelatihan, dan pendampingan yang dilaksanakan secara individual pada sepuluh UMKM sasaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman dan praktik pencatatan keuangan pada UMKM, di mana tujuh dari sepuluh UMKM mulai menerapkan pencatatan keuangan, baik secara lengkap maupun terbatas pada laporan laba rugi dan arus kas. Pendampingan pencatatan laporan keuangan sederhana terbukti membantu pelaku UMKM dalam memantau kondisi keuangan usaha dan mendukung pengambilan keputusan bisnis. Meskipun demikian, sebagian UMKM masih menghadapi kendala dalam memisahkan keuangan pribadi dan usaha, sehingga diperlukan pendampingan lanjutan agar penerapan pencatatan keuangan dapat berkelanjutan.