Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Klasterisasi Spasial Penyakit Lepra Berbasis Indikator Makroekonomi Kabupaten/Kota di Indonesia Ramadhan, Gilang; Aslam Muwaffiq, Muhammad; Sari Verdiana, Antokalina
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i2.63846

Abstract

Penyakit lepra masih menjadi tantangan kesehatan strategis di Indonesia yang ditandai dengan disparitas antarwilayah yang signifikan dan berkaitan erat dengan determinan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi kinerja algoritma K-Means dan Hierarchical Clustering dalam memetakan zonasi risiko lepra berbasis indikator makroekonomi (kapasitas fiskal, kemiskinan, keterbelakangan, dan pengeluaran) di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif Data Mining yang meliputi normalisasi Euclidean, metode Elbow untuk penentuan klaster optimal, dan validasi model menggunakan Silhouette Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hierarchical Clustering memiliki nilai validitas statistik lebih tinggi (0.5357) dibandingkan K-Means (0.4354), K-Means dipilih sebagai model terbaik karena mampu menghasilkan distribusi spasial yang lebih proporsional dan menghindari pengelompokan outlier yang ekstrem. Penelitian ini mengidentifikasi tiga klaster berbeda: Zona Endemis Tinggi-Fiskal Kuat, Zona Tertinggal dengan potensi masalah kurang deteksi (under-detection), dan Zona Moderat. Kesimpulan penelitian mengungkap paradoks di mana beban lepra tertinggi justru ditemukan pada wilayah yang mapan secara ekonomi, mengindikasikan adanya ketimpangan internal, sementara wilayah tertinggal membutuhkan perbaikan infrastruktur deteksi. Temuan ini menjadi landasan bagi intervensi kebijakan yang berdiferensiasi. Penyakit lepra masih menjadi tantangan kesehatan strategis di Indonesia yang ditandai dengan disparitas antarwilayah yang signifikan dan berkaitan erat dengan determinan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi kinerja algoritma K-Means dan Hierarchical Clustering dalam memetakan zonasi risiko lepra berbasis indikator makroekonomi (kapasitas fiskal, kemiskinan, keterbelakangan, dan pengeluaran) di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif Data Mining yang meliputi normalisasi Euclidean, metode Elbow untuk penentuan klaster optimal, dan validasi model menggunakan Silhouette Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hierarchical Clustering memiliki nilai validitas statistik lebih tinggi (0.5357) dibandingkan K-Means (0.4354), K-Means dipilih sebagai model terbaik karena mampu menghasilkan distribusi spasial yang lebih proporsional dan menghindari pengelompokan outlier yang ekstrem. Penelitian ini mengidentifikasi tiga klaster berbeda: Zona Endemis Tinggi-Fiskal Kuat, Zona Tertinggal dengan potensi masalah kurang deteksi (under-detection), dan Zona Moderat. Kesimpulan penelitian mengungkap paradoks di mana beban lepra tertinggi justru ditemukan pada wilayah yang mapan secara ekonomi, mengindikasikan adanya ketimpangan internal, sementara wilayah tertinggal membutuhkan perbaikan infrastruktur deteksi. Temuan ini menjadi landasan bagi intervensi kebijakan yang berdiferensiasi.
Mapping Regional Inequality and Household Economic Stratification in East Nusa Tenggara Based on a Wealth Index Aslam Muwaffiq, Muhammad; Ramadhan, Gilang; Sari Verdiana, Antokalina
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 5 No. 8 (2026): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jrssem.v5i8.1411

Abstract

Conventional monetary-based economic measurement is often biased, particularly in regions with a dominant informal sector and seasonal income fluctuations. This research aims to construct a Wealth Index in East Nusa Tenggara (NTT) Province as a more stable proxy for long-term welfare. Using microdata from the 2025 National Socio-Economic Survey (SUSENAS), the weighted principal component analysis (PCA) method was applied to 18 binary-transformed household asset variables. The analysis utilized R statistical software to ensure accurate population stratification into five welfare quintiles. Statistical validation results showed a Kaiser–Meyer–Olkin (KMO) value of 0.84 and a highly significant Bartlett’s test (p < 0.001), indicating excellent data suitability. The first principal component (PC1) was selected as the single index capable of explaining 20.84% of the total data variance. Loading factor analysis revealed that tertiary asset ownership, such as computers, air conditioners, and cars, possessed the highest discriminatory power, concentrated in Quintile 5 (richest), while households in Quintile 1 (poorest) were characterized by deprivational basic housing conditions. Spatially, an extreme center–periphery divide was identified, with welfare concentrated in urban areas such as Kupang City, while outer archipelagic regions remain underdeveloped. This study recommends asymmetric, place-based policy interventions, prioritizing basic infrastructure development in identified poverty pockets. Furthermore, the generated index is recommended as a robust proxy for modeling ability to pay in actuarial pricing and microinsurance schemes for the informal sector.