Sekolah merupakan lingkungan sosial kedua setelah keluarga yang memiliki peran strategis dalam membentuk perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Salah satu permasalahan sosial yang kerap muncul di lingkungan sekolah dasar adalah terbentuknya circle pertemanan eksklusif yang berpotensi menimbulkan perilaku negatif, seperti perundungan dan pengucilan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode rolling tempat duduk sebagai upaya pemecahan circle pertemanan serta mengidentifikasi hambatan dalam implementasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode rolling tempat duduk yang diterapkan secara terstruktur mampu mengurangi eksklusivitas pertemanan, meningkatkan interaksi sosial yang inklusif, serta memberikan dampak positif terhadap perkembangan afektif dan kognitif peserta didik. Temuan ini sejalan dengan teori sosiokultural Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses perkembangan individu. Dengan demikian, metode ini dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pengelolaan kelas dalam menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan berkeadilan sosial.