Artikel ini membahas fenomena Warung Madura sebagai bentuk branding informal di ruang urban. Penelitian ini berangkat dari kritik terhadap pemahaman brand yang cenderung direduksi pada sistem identitas visual formal seperti logo, slogan, dan strategi komunikasi terencana. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif, penelitian ini mengkaji bagaimana Warung Madura membentuk dan mempertahankan identitas brand tanpa sistem branding formal melalui praktik keseharian masyarakat di wilayah Jakarta. Data diperoleh melalui observasi non-partisipan terhadap aspek visual, spasial, dan praktik layanan Warung Madura, serta analisis narasi sosial terkait penggunaan istilah “Warung Madura” dalam kehidupan sehari-hari masyarakat urban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Warung Madura memiliki tingkat pengenalan publik yang tinggi meskipun tidak didukung oleh identitas visual formal. Identitas brand terbentuk melalui konsistensi praktik visual sederhana, fleksibilitas layanan, serta relasi sosial yang berulang antara pemilik warung dan pelanggan. Penamaan “Warung Madura” berfungsi sebagai label kolektif yang dilekatkan oleh masyarakat dan berperan penting dalam membangun kepercayaan dan pengenalan. Temuan ini menegaskan bahwa brand dapat tumbuh secara organik sebagai praktik sosial, bukan semata sebagai hasil perancangan komunikasi visual yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep “tidak ada brand” perlu dibaca secara kritis, karena ketiadaan sistem branding formal tidak berarti ketiadaan identitas atau makna. Warung Madura menunjukkan bahwa branding informal dapat berfungsi secara efektif dalam konteks ekonomi informal dan ruang urban. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian branding dan Desain Komunikasi Visual yang lebih kontekstual dan peka terhadap praktik keseharian masyarakat.