Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PRODUKTIVITAS AYAM PETERLUR FASE LAYER DENGAN PEMBERIAN PAKAN ADITIF ORGANIK Dimas ujang Susilo, Dimas ujang Susilo; Al Khidzir, M. Ghulam; Winata, Arya; Fatah, Aef Saeful; Dwi Fauzi, Rifqi Niki; Nurul Padilah, M. Faiza
Kandang : Jurnal Peternakan Vol. 18 No. 1 (2026): Edisi Januari - Juli Tahun 2026
Publisher : Prodi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jkd.v18i1.8462

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan pakan aditif organik terhadap produktivitas ayam petelur pada fase layer. Kajian dilakukan menggunakan metode systematic review terhadap 20 artikel ilmiah nasional yang relevan. Parameter yang dianalisis meliputi Hen Day Production (HDP), berat telur per ekor, konsumsi pakan, Feed Conversion Ratio (FCR), serta keuntungan ekonomi yang dihitung melalui Income Over Feed Cost (IOFC). Berbagai bahan aditif organik yang dikaji antara lain kulit bawang putih, tepung daun katuk, daun kelor, daun sirih, mengkudu, ampas jamu, dan belimbing wuluh. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemberian pakan aditif organik berpengaruh nyata terhadap peningkatan produktivitas ayam petelur. Kulit bawang putih dan mengkudu menghasilkan nilai HDP tertinggi, masing-masing sebesar 87,82% dan 115,95%, sedangkan daun kelor menunjukkan efisiensi pakan terbaik dengan nilai FCR sebesar 2,04. Dari aspek ekonomi, kulit bawang putih memberikan nilai IOFC tertinggi sebesar Rp4.612,12, diikuti oleh penggunaan ampas jamu. Selain itu, peningkatan kualitas telur juga teramati, terutama pada penggunaan tepung daun katuk yang menghasilkan berat telur rata-rata tertinggi sebesar 86,71 g per ekor. Secara keseluruhan, penggunaan pakan aditif organik terbukti mampu meningkatkan produktivitas, kualitas telur, serta keuntungan ekonomi usaha ayam petelur. Temuan ini menunjukkan bahwa pakan aditif organik berpotensi menjadi alternatif yang berkelanjutan untuk menggantikan antibiotik sintetis, sejalan dengan kebijakan pelarangan penggunaan antibiotik dalam pakan ternak di Indonesia.