Muh Anshori
Institut Binamadani Indonesia, Tangerang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PRAKTIK PEMENUHAN HAK AKSES KEAGAMAAN PENYANDANG DISABILITAS SENSORIK BERDASARKAN KONSEP AHLIYYAH Ahmad Bahrul Hikam; Muh Anshori
Syarie: Jurnal Pemikiran Ekonomi Islam Vol 8 No 1 (2025): Syar'ie
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/syarie.v8i1.749

Abstract

Tulisan ini bertujuan menjelaskan konsep ahliyyah yang digunakan sebagai dasar untuk memenuhi hak penyandang disabilitas sensorik pada ranah kewajiban keagamaan. Dalam kajian fiqih Islam, penyandang disabilitas sensorik dianggap memiliki hak untuk menjalankan kewajiban keagamaan, sama seperti mereka yang normal (tidak menyandang disabilitas). Penelitian ini berjenis library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Penulis mengambil data-data dari buku, jurnal, kitab fiqih, dan lainnya yang memiliki korelasi dengan pembahasan. Tulisan ini menemukan bahwa konsep ahliyyah berimplikasi pada pemberian rukhshah (keringanan) terhadap penyandang disabilitas sensorik dalam menjalankan kewajiban keagamaan mereka. Dalam implementasinya, rukhshah (keringanan) tersebut diwujudkan dalam bentuk mengakomodasi masyaqqah (kesulitan) yang dialami dan dengan memperluas kaedah rukhshah (keringanan) untuk mengakomodasi al-hajjah (kebutuhan) mereka. Aplikasi dari strategi ini menghasilkan kemampuan dan kecakapan penyandang tuna rungu untuk menjadi imam shalat dengan akses alat gyroscope bracelet, penyandang tuna netra dapat mengkaji Al-Qur'an dengan akses mushaf Braille, mampu pergi ke masjid dan mengikuti shalat berjamaah dengan akses GPS smartphone atau guiding dog, penyandang tuna wicara dapat berdakwah melalui penerjemah bahasa isyarat, penyandang tuna rungu-wicara dapat memperoleh pengetahuan agama dengan akses running teks khutbah, dan lainnya.
STRATEGI PEMULIHAN EKONOMI UNTUK MENJAGA KETAHANAN PANGAN DI MASA PACEKLIK (KAJIAN SURAT YUSUF/12: 47-49) Ali Makfud; Muh Anshori; Suliyono Suliyono
Syarie: Jurnal Pemikiran Ekonomi Islam Vol 8 No 2 (2025): Syar'ie
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/syarie.v8i2.803

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui krisis ekonomi yang dialami negeri Mesir pada masa Yusuf as dan berbagai upaya yang dilakukannya dalam mengatasi dampak krisis dan memulihkan ekonominya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Data-data yang digunakan bersumber dari literatur-literatur kepustakaan yang memiliki topik yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tafsir maudhu’i. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rakyat Mesir saat itu mampu bertahan dalam situasi krisis ekonomi selama tujuh tahun. Berbagai program pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh Yusuf as adalah: 1) melakukan mitigasi bencana atau krisis, 2) Melaksanakan program-program strategis seperti meningkatkan kapasitas produksi, menjaga stabilitas harga, menyimpan stok bahan makanan, mengendalikan konsumsi masyarakat, dan menegakkan supremasi hukum. Hal ini dapat menjadi referensi bagi pemimpin yang bertanggung jawab dalam menangani krisis ekonomi yang dialami suatu negeri.
NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KISAH IBNU UMMI MAKTUM Muh Anshori; Abdul Ghofur
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v6i1.876

Abstract

QS ‘Abasa (80: 1–10) menjadi salah satu ayat kunci dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang inklusif dan humanis. Narasi turunnya ayat yang melibatkan sosok sahabat tunanetra, Ibnu Ummi Maktum, memperlihatkan koreksi Ilahi terhadap pola dakwah yang dipengaruhi hierarki sosial pada masa awal Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam QS ‘Abasa dengan meninjau penafsiran klasik dan kontemporer, serta relevansinya bagi pengembangan pendidikan Islam modern. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dan analisis tematik, kajian ini menemukan bahwa QS ‘Abasa memuat sejumlah nilai pendidikan utama, antara lain nilai inklusivitas dan kesetaraan sosial, nilai hak akses terhadap pendidikan agama, nilai keteladanan nabi dalam menerima koreksi, nilai penghormatan terhadap martabat penyandang disabilitas, dan nilai relevansi pendidikan Islam di era modern. Temuan ini menunjukkan bahwa QS ‘Abasa bukan sekadar teks historis, tetapi landasan normatif bagi pembentukan pendidikan Islam adaptif yang menjunjung martabat manusia tanpa memandang kondisi fisik atau status sosial. Dengan demikian, nilai-nilai yang dihadirkan ayat ini dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan, kurikulum, dan praktik pendidikan keagamaan yang lebih setara dan transformatif.