Indonesia merupakan negara maritim yang sebagian besar wilayahnya berupa lautan, sehingga masyarakatnya banyak yang memanfaatkan sumber daya lautnya. Laut saat ini banyak dimanfaatkan sebagai media transportasi, baik untuk orang maupun logistik yang mempergunakan kapal niaga. Dengan banyaknya kapal niaga di Indonesia maka industri reparasi kapal juga semakin dibutuhkan, karena menurut aturan klasifikasi kapal membutuhkan perawatan serta perbaikan secara berkala. Perlakuan pekerjaan reparasi lambung kapal meliputi sekrap, pencucian dengan air tawar, blasting (full blasting, sweep blasting, dan spot blasting), pengecatan (painting), dan replating (berdasarkan hasil ultrasonic thickness test). Dalam penelitian ini akan lebih difokuskan untuk kapal peti kemas (container ship), kapal curah (bulk carrier) dan kapal tanker (oil tanker). Dalam reparasi kapal yang paling diperhatikan yaitu kondisi badan kapal terutama lambung kapal. Perhitungan volume pekerjaan lambung kapal pada setiap galangan berbeda, sehingga membuat owner kapal kesulitan untuk memperkirakan waktu perbaikan yang akan dilakukan. Dalam hal ini maka tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efisiensi volume pekerjaan reparasi lambung pada kapal niaga agar pekerjaan perawatan/perbaikan bisa berjalan secara optimal. Metode yang digunakan yaitu perhitungan Lloyd’s Registers dengan Analytichal Hierarchy Process (AHP). Hasil perhitungan menunjukkan pekerjaan lambung kapal memiliki perbedaan yang besar yaitu pada kapal MT. Cosmic 15 karena memiliki selisih perhitungan dari galangan dengan Lloyd’s yaitu 203,636 m2. Pada analisa Analytichal Hierarchy Process (AHP) perhitungan CR (Consistency Ratio) mendapatkan hasil tidak konsisten karena nilai lebih dari 0,1 yaitu 5,303. Hal ini dikarenakan data luasan lambung kapal MT. Cosmic 15 berbeda pada setiap galangan tempat docking kapal.