Isputaminingsiih
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SEJARAH ISLAM : KASUS SEKULERISME TURKI Isputaminingsiih
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i1.234

Abstract

Abstrak: Kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani dengan Syaikhul Islam-nya, sebagai sebuah lembaga agama berpendapat bahwa Islam tidak cocok dengan sekularisme. Pemikiran ini bertitik tolak pada pandangan Sultan,”ideologi politik dan negara tidak mungkin dipisahkan dari konsep Islam yang tidak memisahkan urusan negara dari urusan agama”. Pandangan ini bertolak belakang sejalan dengan perkembangan sejarah masyarakat Turki yang beriringan dengan masuknya imperialisme Barat ke dunia Islam yang membawa konsep pemikiran sekularismenya yaitu memisahkan urusan politik (Negara) dari agama. Konsep sekularisme ini akhirnya mempengaruhi golongan modernis Turki di bawah pimpinan Kemal Ataturk menuju Turki Modern yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Kemal Ataturk melaksanakan politik sekularismenya? Bagaimana Turki dapat melaksanakan politik sekularismenya mengingat mayoritas masyarakatTurki beragama Islam? Oleh karena itu, sudah sepatutnya umat Islam lebih terbuka dalam mendeskripsikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur‟an dan Hadis sesuai dengan kontekstualnya bukan hanya melihat tekstualnya saja. Persoalan yang timbul adalah, dapatkah Islam dan sekularisme terjalin secara sinergi? tentunya hal ini susah untuk dijawab. Namun alangkah eloknya jika persoalan ini dikembalikan pada cara pandang atau interpretasi kita terhadap agama dan sekularisme yang dipahami. Materi sekularisme Turki ini perlu dijadikan materi pembelajaran dalam mata kuliah Sejarah Islam karena sekularisme yang dilaksanakan Turki ini berpengaruh pada perkembangan sejarah Islam dalam konsep pemerintahan.
MEMBANGUN BUDAYA HARMONIS DAN RELIGIUS DI ERA GLOBAL Isputaminingsiih
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.239

Abstract

Abstrak: Pada era globalisasi sekarang ini, sangat penting bagi bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia, untuk melakukan rekonstruksi peradabannya dalam kerangka membangun budaya harmonis dan religius. Di dalam masyarakat manusia yang sudah mengglobal, akan terjadi pola-pola hubungan sosial yang berbeda dari sebelumnya di mana kemudahan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan jaringan komunikasi yang menjangkau setiap pelosok hunian manusia akan menciptakan komunitas global dimana anggota-anggotanya akan saling kenal dengan berbagai etnis dan budayanya. Pola-pola hubungan sosial baru ini dimungkinkan karena kemajuan sains dan teknologi yang dilahirkan oleh peradaban Barat moderen. Melalui kemajuan teknologi informasi, dunia yang sebelumnya diklasifikasikan menjadi Barat dan Timur, Utara dan Selatan, desa dan kota, pada era globalisasi, pembagian itu terasa tidak penting lagi. Dunia telah menjadi satu kesatuan di mana masyarakat yang ada di dalamnya, terlepas dari latar belakang etnis, bahasa dan agama telah mejadi satu, yaitu kesatuan manusia. Untuk itu komunikasi yang harmoni antar umat yang mengacu pada nilai-nilai humanity dan toleransimelalui dialogis haruslah dibudayakan