The phenomenon known as the Sandwich Generation is prevalent in contemporary society, particularly among individuals born into low-income families who bear the responsibility of supporting other family members. This generation is frequently linked to deviant behaviour owing to a lack of social control. The present study seeks to examine the mechanisms of social control within the Sandwich Generation, as depicted in the film "1 Kakak 7 Keponakan." The Sandwich Generation is characterised by individuals burdened with financial and social obligations to both the older generation (parents) and the younger generation (children or nephews). This study employs Travis Hirschi's social control theory to explore the interplay of attachment, involvement, commitment, and belief in shaping the behaviour of individuals in such circumstances. A descriptive qualitative reseaNerch method utilising a literary sociology approach was employed. Data were collected through content analysis of the film "1 Kakak 7 Keponakan”, which portrays the influence of social control on an individual responsible for their extended family. Data collection involved watching, recording, and analysing scenes pertinent to the concept of social control. The findings indicate that social control within the Sandwich Generation is predominantly influenced by internal rather than external factors. Familial attachment compels individuals to remain accountable despite significant pressures. Engagement in social activities serves as a deterrent to deviance, although economic constraints occasionally undermine it. Commitment and belief reinforce social control, yet economic pressures can lead to breaches of social norms, such as child labor exploitation and financial abuse within the family. The study concludes that social control in the Sandwich Generation reflects a complex social reality, wherein individuals must navigate the competing demands of familial and personal obligations. Salah satu fenomena sosial yang terjadi dewasa ini adalah Generasi Sandwich yang merupakan fenomena yang terjadi pada individu yang lahir di keluarga dengan pendapatan rendah, dan individu tersebut bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang lain. Generasi sandwich kerap dikaitkan dengan adanya perilaku penyimpangan sebagai konsekuensi terhadap kekosongan kontrol sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontrol sosial yang terjadi dalam Sandwich Generation melalui film “1 Kakak 7 Keponakan”. Fenomena Sandwich Generation menggambarkan individu yang terhimpit tanggung jawab finansial dan sosial terhadap dua generasi sekaligus, yaitu generasi yang lebih tua (orang tua) dan yang lebih muda (anak atau ponakan). Dalam penelitian ini, teori kontrol sosial dari Travis Hirschi digunakan sebagai landasan untuk memahami keterkaitan antara attachment, involvement, commitment, dan belief dalam membentuk perilaku individu yang berada dalam kondisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data diperoleh melalui analisis konten pada film “1 Kakak 7 Keponakan” yang mengilustrasikan peran kontrol sosial dalam kehidupan seorang individu yang bertanggung jawab terhadap keluarga besarnya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menonton, mencatat, dan menganalisis adegan-adegan yang relevan dengan konsep kontrol sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol sosial dalam Sandwich Generation lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal dibandingkan eksternal. Attachment dalam keluarga membuat individu tetap bertanggung jawab meskipun mengalami tekanan besar. Involvement dalam kehidupan sosial membantu mencegah penyimpangan, tetapi terkadang gagal akibat faktor ekonomi. Commitment dan belief memperkuat kontrol sosial, meskipun dalam beberapa kasus tekanan ekonomi menyebabkan pelanggaran norma sosial, seperti eksploitasi tenaga kerja anak dan penyalahgunaan keuangan dalam keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kontrol sosial dalam Sandwich Generation mencerminkan realitas sosial yang kompleks, di mana individu harus menyeimbangkan tuntutan keluarga dan kehidupan pribadinya.