Lu’lu’a Lanahdiayanna
Universitas Bani Saleh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN ORANG TUA TERHADAP HOSPITALISASI ANAK USIA PRA SEKOLAH DI RUANG PERAWATAN ANAK Nunung Rismawati; Fauziah H Wada; Yusrini Yusrini; Lu’lu’a Lanahdiayanna
FKF Vol 2 No 2 (2025): JHPS. September 2025
Publisher : LPPM Universitas Bani Saleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Hospitalisasi merupakan pengalaman yang dapat menimbulkan dampak emosional, baik bagi anak yang dirawat maupun orang tua. Anak usia prasekolah berada pada tahap perkembangan yang rentan dan belum mampu memahami situasi medis yang dihadapinya. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan, perubahan rutinitas, serta ketergantungan pada orang tua sering kali menimbulkan kecemasan pada anak, yang secara tidak langsung juga menimbulkan kecemasan pada orang tua. Terutama bagi orang tua yang baru pertama kali menghadapi hospitalisasi anak dan kurang mendapat dukungan dari keluarga, tingkat kecemasan cenderung meningkat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan yang dialami oleh orang tua yang anaknya menjalani hospitalisasi di ruang perawatan anak Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (RSPJNHK). Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Jumlah responden sebanyak 78 orang tua dari anak yang sedang dirawat inap di ruang perawatan anak RSPJNHK. Hasil: Mayoritas responden berusia 30–40 tahun (42,3%), berpendidikan SMA (44,9%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (66,7%), memiliki penghasilan setara UMR (71,8%), dan sebagian besar berjenis kelamin perempuan (84,6%). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami tingkat kecemasan sedang (47,4%). Kesimpulan: Orang tua yang anaknya menjalani hospitalisasi di ruang perawatan anak RSPJNHK cenderung mengalami kecemasan dalam kategori sedang.
Gambaran Kejadian Depresi Postpartum pada Ibu Pasca Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Bahagia Khoerunnisa; Fauziah H Wada; Yusrini Yusrini; Lu’lu’a Lanahdiayanna
FKF Vol 2 No 2 (2025): JHPS. September 2025
Publisher : LPPM Universitas Bani Saleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Depresi postpartum adalah gangguan psikologis yang sering terjadi pada wanita setelah melahirkan. Kondisi ini dapat menyebabkan ibu tidak mampu merawat bayinya, serta beresiko menimbulkan komplikasi akibat ketidakpatuhan terhadap anjuran kesehatan. Pada bayi, dampaknya meliputi gangguan makan, sulit tidur, dan sering menangis. Dalam kasus berat, dapat memicu keinginan bunuh diri atau membahayakan bayi. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian depresi postpartum pada ibu pasca melahirkan di wilayah kerja Puskesmas Bahagia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif observasional dan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan pusposive sampling dan instrument EPDS dengan total responden 331 ibu postpartum. Hasil: Dari 331 responden, mayoritas (81,6%) berada pada usia reproduksi sehat (20–35 tahun) dan (10,3%) bayi berusia < 11 bulan. Sebagian besar lulusan SMA (52,9%), berparitas multipara (63,1%), tidak bekerja (76,4%), serta memiliki penghasilan diatas UMR (55,3%). Tingkat risiko depresi postpartum menunjukkan (62,8%) responden mengalami risiko ringan, (21,5%) risiko sedang, dan (15,7%) risiko berat. Kesimpulan: Ibu postpartum mengalami depresi dengan tingkat risiko ringan hingga berat. Mayoritas berada pada usia reproduksi sehat dan memiliki bayi <11 bulan, masa yang rentan secara psikologis. Pendidikan SMA menunjukkan kesiapan mental berperan penting, paritas multipara lebih rentan karena beban fisik dan emosional yang lebih besar serta ibu tidak bekerja berisiko kelelahan dan kurang waktu untuk diri sendiri. Meski pendapatan di atas UMR, kondisi ekonomi belum tentu menjamin kestabilan psikologis. Saran: Diperlukan peningkatan pemantauan dan dukungan psikologis dari keluarga, petugas kesehatan bagi ibu postpartum untuk mencegah dan mengatasi depresi postpartum secara efektif.