Model keputusan terintegrasi yang menggabungkan Life Cycle Assessment (LCA) dan Techno-Economic Analysis (TEA) sangat penting untuk mengevaluasi pengelolaan Produced Water (PW) yang berkelanjutan dalam operasi hydraulic fracturing. Penelitian ini menjawab kesenjangan literatur mengenai kurangnya kerangka kerja holistik yang mengkuantifikasi secara eksplisit trade-off antara aspek ekonomi dan lingkungan untuk strategi daur ulang PW di Indonesia. Model simulasi hibrida dikembangkan dan diterapkan pada karakteristik PW dari Lapangan “X” di Cekungan Sumatera Selatan (TDS ~120.000 mg/L), dengan membandingkan tiga skenario: baseline air tawar, reuse dengan pretreatment konvensional, dan reuse dengan sistem membran khusus (Ultrafiltrasi + Vibratory Shear Enhanced Processing/VSEP). Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa skenario membran, meski membutuhkan investasi awal tambahan sebesar USD 800.000 per fasilitas, mampu menurunkan biaya siklus hidup (LCC) sebesar USD 2,3 juta selama 5 tahun beroperasi dan mengurangi jejak karbon hingga 1.200 ton CO2-ekivalen per sumur, sekaligus menghemat 240.000 barel air tawar per sumur. Inovasi penelitian terletak pada model algoritma pemilihan teknologi yang peka terhadap variasi kualitas air lokal, yang menghasilkan rekomendasi kebijakan operasional spesifik untuk mengurangi biaya hingga 28% dan dampak lingkungan hingga 35% dibandingkan praktik standar. Simpulan ini memberikan peta jalan teknis-ekonomis yang langsung dapat diadopsi oleh industri dan regulator, secara nyata mendukung pencapaian SDG 6 (penghematan sumber air), SDG 9 (industri inovatif), SDG 12 (efisiensi sumber daya), dan SDG 13 (aksi iklim), melalui pendekatan rekayasa sistem yang ketat dan berkelanjutan.