PT Petrokimia Gresik menghadapi tantangan tingginya biaya produksi pupuk Phosgreen pasca pencabutan subsidi pupuk SP-36, dengan kontribusi biaya bahan baku mencapai 85,91% dari total Harga Pokok Produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemilihan alternatif bahan baku fosfat untuk meminimasi biaya produksi menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Data diperoleh melalui survei pendahuluan, diskusi kelompok terarah, dan kuesioner perbandingan berpasangan yang melibatkan unit proses, pengadaan, dan pengendalian kualitas. Parameter yang dianalisis meliputi harga bahan baku, biaya pengiriman dan handling, karakteristik kimia (kandungan P?O? dan impuritas), fleksibilitas operasional, serta dampak lingkungan. Seluruh matriks perbandingan memenuhi persyaratan konsistensi dengan Consistency Ratio (CR) ? 0,1. Hasil analisis menunjukkan kriteria biaya memiliki tingkat kepentingan tertinggi, diikuti kualitas dan ketersediaan pasokan. Sintesis bobot global menempatkan ROP Sludge sebagai alternatif prioritas tertinggi, diikuti Rock Phosphate Mesir, Rock Phosphate Jordan, dan Phosphate Rock Lokal. ROP Sludge unggul secara teknis karena kompatibel dengan sistem proses eksisting tanpa modifikasi peralatan utama, serta mampu menurunkan biaya produksi dari 270 USD/ton menjadi 153 USD/ton atau sekitar 43%. Analisis sensitivitas menunjukkan hasil pemeringkatan stabil dan robust terhadap perubahan bobot kriteria dalam rentang moderat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan ROP Sludge merupakan alternatif paling layak secara teknis dan ekonomis untuk meningkatkan efisiensi biaya dan keberlanjutan operasional produksi pupuk Phosgreen, sekaligus memberikan dasar kuantitatif bagi pengambilan keputusan strategis pengadaan bahan baku fosfat di industri pupuk.