Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan sistem budidaya outdoor dan indoor terhadap performa budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Pengamatan dilakukan selama 90 hari atau satu siklus pemeliharaan dengan menggunakan metode observasi langsung, wawancara, serta partisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan budidaya. Parameter yang diamati meliputi kualitas air, yang terdiri atas suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, dan kecerahan perairan. Selain itu, parameter pertumbuhan udang juga diamati, meliputi Average Body Weight (ABW), Average Daily Growth (ADG), Survival Rate (SR), serta Feed Conversion Ratio (FCR) sebagai indikator efisiensi pemanfaatan pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem budidaya outdoor memiliki kondisi suhu dan salinitas yang lebih mendekati kisaran optimal bagi pertumbuhan udang vannamei. Kondisi tersebut mampu mendukung laju pertumbuhan yang lebih cepat, yang ditunjukkan oleh nilai ABW akhir sebesar 26,35 g dan nilai ADG tertinggi mencapai 0,78 g/hari. Sebaliknya, sistem budidaya indoor menunjukkan laju pertumbuhan yang relatif lebih lambat, namun memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi, yaitu sebesar 95%, dibandingkan dengan sistem outdoor yang mencapai 90%. Selain itu, nilai Feed Conversion Ratio (FCR) pada sistem indoor menunjukkan tingkat efisiensi pakan yang lebih baik dibandingkan sistem outdoor. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan yang lebih terkendali pada sistem indoor mampu mendukung pemanfaatan pakan secara lebih optimal. Secara keseluruhan, sistem budidaya outdoor lebih unggul dalam meningkatkan pertumbuhan biomassa udang, sedangkan sistem budidaya indoor lebih efektif dalam menjaga tingkat kelangsungan hidup dan stabilitas lingkungan.