Dalam suatu wilayah dinamika kebahasaan masih sering ditemukan, terutama di sekolah yang berada di daerah perbatasan budaya dan bahasa, seperti wilayah peralihan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hal ini mengakibatkan adanya fenomena diglosia, yaitu keadaan ketika dua variasi bahasa atau lebih digunakan dalam satu komunitas dengan fungsi yang berbeda dan relatif terpisah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena diglosia yang terjadi di SMA Negeri 2 Banjar, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai ragam tinggi (High/H), serta bahasa Sunda dan Jawa sebagai ragam rendah (Low/L). Penelitian ini menggunakan gabungan dua jenis data yaitu mix method baik data kuantitatif dan data kualitatif, untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai fenomena diglosia di lingkungan SMA Negeri 2 Banjar. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data dan sumber data disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket melalui google form kepada 50 siswa kelas XII. Hasil penelitian menunjukkan angka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks formal, 58% siswa memilih bahasa tersebut karena lebih nyaman digunakan dan 58% faktornya disebabkan oleh lawan biara.Temuan kualitatif menunjukkan bahwa siswa secara sadar membedakan penggunaan bahasa berdasarkan konteks komunikasi. Bahasa Indonesia dipersepsikan sebagai bahasa resmi dan sopan sehingga dominan digunakan dalam situasi formal dan akademik, sedangkan bahasa Sunda dan Jawa digunakan untuk membangun kedekatan dan kenyamanan dalam interaksi nonformal. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi kebahasaan agar siswa mampu menggunakan bahasa secara tepat sesuai konteks.