Bangunan landmark bersejarah membawa sebuah narasi dari memori kolektif masyarakat dan identitas urban. Namun, di banyak kota kecil di Indonesia, seperti Kota Kediri contohnya, signifikansi dari arsitektural bangunan bersejarah masih banyak yang belum dikaji akibat dari minimnya peraturan daerah yang mengatur bangunan-bangunan ini. Penelitian ini melakukan kajian komprehensif terhadap pentingnya elemen arsitektur pembentuk bangunan landmark bersejarah di Kota Kediri, dengan menekankan bagaimana persepsi Masyarakat berkontribusi pada pengenalan bangunan heritage dan identitas visualnya dalam konteks urban. Metode berbasis data digunakan, yaitu survey persepsi publik dan analisis model regresi linier berganda, untuk mengidentifikasi elemen yang memiliki pengaruh tinggi pada bangunan. Enam bangunan landmark bersejarah, yaitu GPIB Immanuel Kediri, SMAN 1 Kediri, Kantor Eks-Karesidenan Kediri, Stasiun KAI Kediri, Pabrik Gula Meritjan, dan Kantor Bank Indonesia cabang Kediri, dianalisis berdasarkan variabel elemen arsitektur yaitu bentuk bangunan, material bangunan, pintu, jendela, atap, kolom, ornamen, dan lubang ventilasi (bouvenlicht). Hasil penelitian kuantitatif ini menunjukkan bahwa elemen arsitektur, seperti bentuk bangunan, pintu, ornamen, dan lubang ventilasi, memiliki pengaruh tinggi terhadap visual bangunan. Hal ini disebabkan oleh sisa-sisa kolonialisme pada bangunan sebagai identitas budaya serta keterikatan makna secara semantic. Kata kunci: signifikansi elemen arsitektur, bangunan landmark bersejarah, persepsi publik, identitas visual, evaluasi kuantitatif