Penyuluh pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada pangan melalui hilirisasi teknologi budidaya padi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dalam menghilirisasikan teknologi budidaya padi di Kabupaten Banjar dan Barito Kuala, Kalimantan Selatan, serta mengidentifikasi kendala dan strategi peningkatan kinerjanya. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan penyuluh dan petani, serta telaah dokumen programa penyuluhan dan laporan kinerja BPP. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyuluh BPP telah menjalankan perannya dalam diseminasi teknologi seperti varietas unggul baru, mekanisasi pertanian, sistem tanam jajar legowo, dan pengelolaan air lahan rawa pasang surut. Implementasi teknologi tersebut terbukti meningkatkan produktivitas padi hingga 30% serta menekan kehilangan hasil panen. Namun, kinerja penyuluh masih menghadapi kendala berupa rasio penyuluh terhadap kelompok tani yang tidak ideal (1:20), keterbatasan sarana operasional, serta rendahnya insentif bagi tenaga penyuluh honorer. Strategi peningkatan kinerja meliputi penambahan jumlah penyuluh, peningkatan kapasitas melalui pelatihan berkelanjutan, penguatan sarana prasarana, serta digitalisasi penyuluhan. Simpulan dari kajian ini adalah bahwa kinerja penyuluh BPP berkontribusi signifikan terhadap hilirisasi teknologi padi, namun optimalisasinya memerlukan dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai dari pemerintah daerah agar target swasembada pangan dapat tercapai secara berkelanjutan.