Sistem arus lemah pada gedung bertingkat berperan strategis dalam mendukung fungsi komunikasi, keamanan, dan keselamatan bangunan. Dibanding bangunan rendah, kompleksitasnya lebih tinggi karena melibatkan distribusi vertikal melalui riser, keterbatasan ruang teknis, kebutuhan redundansi jaringan, serta integrasi berbagai subsistem seperti structured cabling, CCTV, access control, dan fire alarm dalam satu ekosistem operasional, sehingga menuntut perancangan dan implementasi yang terstruktur serta sesuai dengan standar teknis yang berlaku, termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini bertujuan mengkaji secara sistematis perkembangan riset terkait desain dan implementasi sistem arus lemah pada gedung bertingkat serta mengidentifikasi kecenderungan pendekatan, tantangan teknis, dan celah penelitian. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) mengacu pada pedoman PRISMA, dengan 10 artikel jurnal internasional terbitan 2015–2025 yang diseleksi melalui proses identifikasi, penyaringan, dan evaluasi kelayakan, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan pergeseran dari pendekatan konvensional menuju integrasi berbasis Building Information Modeling (BIM), otomasi desain, optimasi jaringan, serta pemanfaatan IoT dan edge computing. Structured cabling teridentifikasi sebagai infrastruktur inti yang menopang integrasi subsistem, sementara keamanan data, manajemen bandwidth, dan integrasi monitoring kebakaran menjadi aspek krusial dalam menjamin keandalan bangunan. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif berbasis BIM dan dokumentasi digital sejak tahap perencanaan untuk mendukung verifikasi kepatuhan standar serta pengembangan model evaluasi kesesuaian berbasis indikator teknis terukur. Low-voltage systems in high-rise buildings play a strategic role in supporting communication, security, and safety functions. Compared to low-rise buildings, their complexity is significantly higher due to vertical distribution through risers, limited technical spaces, network redundancy requirements, and the integration of multiple subsystems such as structured cabling, CCTV, access control, and fire alarm within a single operational ecosystem, thereby requiring structured design and implementation in compliance with applicable technical standards, including Indonesian National Standards (SNI). This study aims to systematically examine research developments related to the design and implementation of low-voltage systems in high-rise buildings and to identify prevailing approaches, technical challenges, and research gaps. The method employed is a Systematic Literature Review (SLR) based on PRISMA guidelines, analyzing 10 international journal articles published between 2015 and 2025 that were selected through identification, screening, and eligibility evaluation processes. The findings indicate a shift from conventional design approaches toward integration based on Building Information Modeling (BIM), design automation, network optimization, and the application of IoT and edge computing technologies. Structured cabling is identified as the core infrastructure supporting subsystem integration, while data security, bandwidth management, and integrated fire monitoring systems are critical to ensuring building reliability. These findings highlight the importance of a BIM-based integrative approach and digital documentation from the early planning stage to support standard compliance verification and the development of measurable technical indicator-based evaluation models.