Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan multimedia interaktif Sistem Tata Surya (SETARA) pada siswa kelas VI di Sekolah Dasar Winong Pati. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai kondisi pembelajaran, kebutuhan siswa, serta kesiapan sekolah dalam penerapan multimedia interaktif. Subjek penelitian meliputi siswa kelas VI dan guru kelas VI Sekolah Dasar Winong Pati. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket terbuka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Sistem Tata Surya masih didominasi oleh metode konvensional dengan penggunaan media yang terbatas, sehingga kurang mampu memfasilitasi pemahaman konsep abstrak dan menurunkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Siswa menunjukkan kebutuhan terhadap multimedia interaktif yang memuat visualisasi, animasi, simulasi, dan evaluasi interaktif untuk membantu memahami materi Sistem Tata Surya secara lebih konkret dan menarik. Guru juga menyatakan perlunya multimedia interaktif yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar, selaras dengan Kurikulum Merdeka, serta mudah digunakan dalam pembelajaran. Meskipun penelitian tentang multimedia interaktif dalam pembelajaran IPA telah banyak dilakukan, sebagian besar studi lebih berfokus pada tahap pengembangan dan pengujian efektivitas media tanpa diawali analisis kebutuhan yang kontekstual di sekolah dasar. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan mengkaji kebutuhan multimedia interaktif Sistem Tata Surya (SETARA) berdasarkan kondisi nyata pembelajaran serta kesiapan fasilitas teknologi di sekolah, seperti penggunaan smartphone oleh siswa dan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) di kelas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa fasilitas teknologi sebenarnya telah tersedia, namun pemanfaatannya dalam pembelajaran IPA masih belum optimal. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan dasar empiris untuk pengembangan multimedia interaktif yang lebih kontekstual, sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 dan implementasi Kurikulum Merdeka.