Transformasi sistem kesehatan Indonesia mendorong penerapan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) dengan Posyandu sebagai simpul layanan berbasis siklus hidup. Keberhasilan ILP sangat dipengaruhi oleh kinerja kader Posyandu yang menjalankan tugas sebelum, saat dan sesudah hari buka Posyandu (penggerak, penyuluh, pencatat/pelapor, dan pendamping). Tujuan: Memetakan bukti terkini (2023–2026) tentang faktor-faktor yang memengaruhi tugas/kinerja kader Posyandu dalam mendukung ILP di Puskesmas. Metode: Scoping review mengikuti kerangka Arksey & O’Malley yang diperkaya Levac serta panduan JBI, dan dilaporkan berdasarkan PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada PubMed, DOAJ, GARUDA/SINTA, dan Google Scholar (Januari 2026) menggunakan kata kunci Indonesia Inggris terkait ‘kader’, ‘Posyandu’, dan ‘Integrasi Layanan Primer/primary health care integration’. Kriteria inklusi: artikel 2023–2026, konteks Indonesia (dan bukti global pendukung), membahas faktor determinan tugas/kinerja/keaktifan/kesiapan kader dalam layanan Posyandu/ILP. Hasil: Dari 160 rekaman, 15 studi dimasukkan. Faktor yang konsisten berhubungan dengan tugas/kinerja kader meliputi pengetahuan dan literasi program, pelatihan/pendampingan, motivasi dan insentif, dukungan tenaga kesehatan/supervisi, ketersediaan alat dan sistem pencatatan pelaporan (termasuk digital), serta dukungan sosial dan partisipasi masyarakat. Hambatan utama mencakup beban kerja, keterbatasan waktu, keterampilan pencatatan, dan variasi implementasi ILP lintas wilayah. Kesimpulan: Penguatan tugas kader untuk ILP membutuhkan paket intervensi yang menautkan peningkatan kapasitas (pelatihan, coaching), penguatan sistem (SIP, logistik, alur rujukan), dan tata kelola dukungan (supervisi, insentif, pengakuan) yang kontekstual di tingkat Puskesmas.