Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Penolakan Gerakan Perempuan di Inggris Terhadap Referendum Britain Exit Uwar, Basyarani Annisa Rizkynindita; Pradana, Hafid Adim; Soedarwo, Vina Salviana Darvina
Jurnal Perempuan dan Anak Vol. 8 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jpa.v8i2.42870

Abstract

Penelitian ini menganalisis strategi gerakan perempuan di Inggris dalam menolak referendum Brexit dengan menempatkan Brexit bukan sekadar persoalan teknis hubungan Inggris–Uni Eropa, melainkan sebagai ancaman terhadap hak dan kesejahteraan perempuan. Berangkat dari kerangka masyarakat sipil, gerakan sosial, dan politik gender, penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana strategi gerakan perempuan di Inggris dalam menolak Brexit dan bagaimana mereka membingkai Brexit sebagai ancaman yang berimplikasi secara spesifik terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus deskriptif, berdasarkan studi pustaka terhadap buku, artikel jurnal, laporan organisasi masyarakat sipil, dan pemberitaan media, yang dilengkapi dengan satu wawancara semi-terstruktur dengan aktivis Women for Europe. Data dianalisis melalui pembacaan tematik untuk mengidentifikasi pola strategi, jaringan aktor, dan cara gerakan perempuan membingkai isu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa gerakan perempuan membangun konfigurasi aktor yang berlapis dan strategi kampanye yang multi-level. Mereka menggabungkan demonstrasi dan aksi jalanan, produksi pengetahuan dan advokasi kebijakan, framing politik dan kampanye media, serta koalisi lintas gerakan dan kerja sama dengan aktor parlementer. Brexit dibingkai sebagai ancaman terhadap standar ketenagakerjaan, perlindungan sosial, dan kerangka hukum kesetaraan gender yang selama ini difasilitasi Uni Eropa, sekaligus sebagai contoh defisit demokrasi yang bias gender. Penelitian ini menegaskan peran gerakan perempuan sebagai aktor masyarakat sipil yang tidak hanya menolak Brexit, tetapi juga menawarkan pembacaan alternatif tentang demokrasi yang lebih inklusif dan peka gender.