Kehilangan pasangan hidup merupakan pengalaman traumatis yang dapat menimbulkan gangguan psikososial berupa kecemasan. Kondisi ini sering dialami individu usia dewasa madya yang menghadapi perubahan peran dalam keluarga serta keterbatasan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan komunitas pada pasien dengan kecemasan pasca kematian pasangan. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian adalah seorang perempuan berusia 52 tahun dengan skor Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) menunjukkan kecemasan sedang. Intervensi yang diberikan meliputi reduksi ansietas melalui latihan mindfulness pernapasan dan body scan, dukungan emosional, serta edukasi kesehatan mengenai teknik relaksasi. Implementasi dilakukan selama tiga hari dengan sesi pagi dan sore. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor GAD-7 dari 12 (kecemasan sedang) menjadi 5 (kecemasan ringan). Pasien juga memperlihatkan peningkatan kemampuan koping, keterlibatan sosial, serta pemahaman dan keterampilan dalam praktik mindfulness. Evaluasi akhir menunjukkan pasien lebih mampu mengontrol kecemasan, terbuka dalam mengekspresikan perasaan, serta mandiri melakukan latihan relaksasi. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa intervensi berbasis mindfulness yang dikombinasikan dengan dukungan emosional efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan koping adaptif pada pasien dengan kehilangan pasangan. Disarankan agar tenaga kesehatan komunitas mengintegrasikan terapi mindfulness ke dalam program dukungan psikososial untuk meningkatkan kesejahteraan mental masyarakat.