Air minum yang layak dan aman untuk dikonsumsi harus memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh WHO, termasuk tingkat keasaman (pH) pada rentang 6,5–8,5. Namun, hasil survei menunjukkan sebagian besar depot air minum isi ulang di Kecamatan Kulim masih memiliki kadar pH di bawah standar tersebut, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan konsumen. Upaya perbaikan kualitas air perlu dilakukan dengan metode yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan. Batu karang jahe diketahui memiliki kandungan mineral kalsium dan magnesium yang mampu menetralkan keasaman air sehingga dapat digunakan sebagai alternatif bahan alami untuk meningkatkan kadar pH. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuantitatif dengan purposive sampling pada 33 depot air minum isi ulang yang memiliki pH awal <6,5. Perlakuan dilakukan dengan merendam batu karang jahe ke dalam sampel air, kemudian dilakukan pengukuran kadar pH sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan pH meter digital. Analisis data dilakukan dengan uji paired sample t-test untuk mengetahui signifikansi perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kadar pH. Nilai rata-rata pH sebelum perlakuan adalah 4,04 dan meningkat menjadi 7,50 setelah perlakuan, dengan nilai p-value = 0,000 (p<0,05). Hal ini membuktikan bahwa batu karang jahe efektif dalam menaikkan pH air hingga memenuhi standar kesehatan air minum yang berlaku. Kesimpulannya, penggunaan batu karang jahe dapat menjadi solusi alternatif yang alami, ekonomis, dan ramah lingkungan dalam meningkatkan kualitas air minum depot di Kecamatan Kulim, serta berpotensi diterapkan secara luas pada wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa.