Bahasa Inggris sudah lama menjadi bagian penting dalam komunikasi akademik maupun dunia kerja. Meski begitu, tidak banyak penelitian yang benar-benar menggambarkan bagaimana mahasiswa memandang dan menggunakan bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini mencoba melihat lebih dekat bagaimana mahasiswa memahami kebutuhan, kenyamanan, dan tantangan saat berinteraksi dengan bahasa Inggris. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan dua mahasiswa Universitas Djuanda dari program studi yang berbeda. Pertanyaan yang diajukan mencakup cara mereka memaknai bahasa Inggris, pengalaman pribadi, dukungan lingkungan sekitar, hingga kendala yang mereka temui. Jawaban kemudian dianalisis untuk menemukan pola dan pandangan umum dari kedua responden. Hasilnya menunjukkan bahwa Bahasa Inggris dianggap sebagai keterampilan dasar yang wajib dimiliki, terutama untuk membaca jurnal, menyelesaikan tugas kuliah, serta mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Kedua mahasiswa juga mengaku sering menemui bahasa Inggris dalam aktivitas harian, mulai dari media sosial, video, hingga aplikasi kampus. Mahasiswa dari rumpun ilmu komputer bahkan menilai hampir semua kegiatannya—mulai dari coding sampai membaca dokumentasi, tidak bisa dilepaskan dari bahasa Inggris. Faktor lingkungan, pengalaman positif, dan kepercayaan diri sangat memengaruhi kemauan mereka untuk belajar. Namun, kebiasaan menggunakan bahasa daerah dan rasa tidak percaya diri saat berbicara masih menjadi hambatan. Penelitian ini menyadari keterbatasan jumlah responden, sehingga temuan belum dapat digeneralisasi. Meski begitu, hasilnya memberi gambaran bahwa mahasiswa membutuhkan latihan yang berkelanjutan agar semakin terbiasa memakai bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.