Populasi lansia secara global dan nasional terus meningkat, memicu berbagai tantangan kesehatan masyarakat seperti penurunan fungsi muskuloskeletal, gangguan keseimbangan, berkurangnya mobilitas, serta risiko jatuh yang tinggi. Faktor fisiologis penuaan, termasuk kehilangan massa otot, penurunan propriosepsi, dan lambatnya respon neuromotor, berpadu dengan faktor lingkungan dan perilaku, sehingga diperlukan intervensi promotif dan preventif yang mudah diakses di tingkat komunitas. Penelitian ini mengevaluasi perubahan distribusi tingkat keseimbangan pada lansia setelah intervensi senam fisioterapi melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Gereja GPIB Surya Kasih. Seluruh peserta lansia yang hadir (n = 30; usia 60–78 tahun) mengikuti satu sesi senam fisioterapi mencakup pemanasan, latihan inti penguatan anggota bawah dan keseimbangan statik-dinamik, serta pendinginan, yang disampaikan melalui ceramah singkat, demonstrasi, praktik bersama, dan pendampingan individual. Tingkat keseimbangan diukur sebelum dan segera setelah intervensi menggunakan kategorisasi ordinal: Kurang, Cukup, Baik, dan Sangat Baik. Analisis deskriptif menunjukkan pergeseran distribusi dari Kurang 60,00% menjadi 3,33%, Cukup dari 33,33% menjadi 20,00%, dan Baik dari 6,67% menjadi 76,67%, sedangkan kategori Sangat Baik tetap 0%. Hasil ini mengindikasikan bahwa senam fisioterapi terstruktur yang dilaksanakan di komunitas keagamaan dapat meningkatkan tingkat keseimbangan lansia secara signifikan dalam waktu singkat. Kata Kunci : Lansia; keseimbangan; senam fisioterapi; komunitas keagamaan; pencegahan jatuh