Alfina Azzahrah
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANGANI SISWA BERMASALAH DI MTSN 13 JAKARTA Alfina Azzahrah; Fajar Putra Dewanto; Lulu Lil Azizah
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Process
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.10029

Abstract

Penelitian ini meneliti peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengelola siswa bermasalah di MTs Negeri 13 Jakarta. Fokus penelitian ini adalah bagaimana guru PAI berkontribusi dalam bimbingan moral, pengelolaan perilaku, dan pengembangan karakter melalui pendekatan kolaboratif dengan guru konseling dan wali kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang dilakukan pada bulan November 2025 di Gedung B MTs Negeri 13, Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara mendalam dengan guru PAI, dan analisis dokumen. Subjek dipilih menggunakan purposive sampling, dengan fokus pada guru PAI yang memiliki pengalaman minimal dua tahun dalam bimbingan siswa. Temuan menunjukkan bahwa pengelolaan siswa bermasalah mengikuti pola yang sistematis dan bertahap, dimulai dari guru mata pelajaran, melibatkan wali kelas, dan meningkat ke konselor bimbingan jika diperlukan. Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) memainkan peran strategis dalam pengembangan moral melalui metode persuasif, bimbingan spiritual, dan perilaku teladan. Pendekatan spiritual menekankan praktik ibadah yang benar dan pengelolaan emosi melalui dzikir dan doa, sementara pendekatan humanistik dalam manajemen kelas mengakui latar belakang siswa yang beragam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan guru PAI yang menggabungkan pengembangan moral, spiritualitas, dan perilaku teladan berkontribusi pada perubahan perilaku siswa secara bertahap. Namun, hal ini memerlukan kesabaran, konsistensi, dan upaya berkelanjutan dalam sinergi dukungan antara sekolah dan keluarga.