Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

METODE TIKRAR DALAM PEMBELAJARAN DAN MENGHAPAL AL-QUR’AN STUDI KASUS PONDOK PESANTREN TAHFIZ AL-FAIZ KABUPATEN DELI SERDANG Zulheri Azhari; Abdul Habib Harahap; Khoirul Huda
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2026): Volume 12 No. 01 Maret 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.11646

Abstract

Dalam pembelajaran tahfiz memerlukan adanya metode untuk memudahkan para santri menghapal Al-Qur''an, diantara metode yang ada adalah metode tikrar yang menggunakan teknik pengulangan dalam menghapal maupun menguatkan hapalan santri. dengan adanya metode tikrar ini para santri akan semakin mudah dalam menghapal dan muraja’ah Al-Qur’an. penelitian akan mendeskripsikan guna menggambarkan terkait realita yang ada di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Faiz Kabupaten Deli serdang. Objek dari wawancara tersebut adalah guru-guru tahfiz dan santri-santri pondok pesantren Al-Faiz yang terlibat dalam penelitian ini. Adapun observasi yang dilakukan adalah dengan melihat secara langsung kegiatan pembelajaran tahfiz dan menghapal Al-Qur’an pondok pesantren Al-Faiz. tujuan dari penelitian ini adalah merangkum secara umum teknik menghapal AL-Qur'an dengan metode tikrar, lalu menjelaskan langkah-langkah maupun persiapan yang digunakan dalam menghapal AL-Qur'an sesuai dengan metode tikrar.lalu peneliti juga menjelaskan bagaimana implementasi pondok pesantren tahfiz Al-Faiz terhadap metode tikrarBerdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penting adanya satu sistem untuk mendorong santri dalam menghapal, diantara sistem tersebut adalah dengan menentukan metode menghapal yang sesuai dengan santri tersebut. Maka metode Tikrar merupakan salah satu metode yang sesuai dengan pembelajaran Tahfiz dikarenakan menggunakan metode yang simpel dan efektif. Metode tikrar ini juga banyak ditemui di pondok pesantren tahfiz lainnya dan dapat ditemukan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Metode tikrar juga memiliki beberapa langkah yang akan diterapkan oleh guru maupun santri yang terlibat didalamnya. Diantaranya seperti tahap implementasi, langkah menghapal maupun cara mengkuatkan hapalan dengan muraja’ah. Begitu juga perlu adanya penyimakan oleh guru maupun partner dari santri yang menghapal Al-Qur’an agar santri bisa mengetahui kesalahan dari hapalan yang ia bacakan maupun muraja’ahkan.
Wasasan Nusantara/Geopolitik dan Geostrategi Khoirul Huda; Baginda Ahmad Sakti Nasution; Muhammad Naufal Alif Nasution; Intan Rusniyati Tanjung
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8636

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Wawasan Nusantara, geopolitik, dan geostrategi dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional di Indonesia. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena eksploitasi sumber daya alam sejak era Orde Baru yang berdampak pada kerusakan lingkungan, ketimpangan wilayah, serta meningkatnya ancaman non-tradisional seperti bencana ekologis. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui analisis berbagai sumber ilmiah seperti buku, jurnal, dan publikasi akademik terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wawasan Nusantara berperan sebagai landasan konseptual dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman serta dinamika global. Sementara itu, geopolitik memberikan pemahaman mengenai pentingnya posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dalam menentukan kebijakan strategis, termasuk dalam pengelolaan jalur perdagangan dan hubungan internasional. Geostrategi berfungsi sebagai instrumen implementatif dalam memanfaatkan potensi sumber daya dan kekuatan nasional untuk mencapai tujuan negara, baik dalam aspek pertahanan, ekonomi, maupun pembangunan wilayah. Studi kasus bencana di Aceh menunjukkan bahwa kurangnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dapat menimbulkan dampak serius terhadap masyarakat dan lingkungan. Selain itu, pemindahan ibu kota negara (IKN) menjadi salah satu strategi geostrategis untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah. Dengan demikian, integrasi antara Wawasan Nusantara, geopolitik, dan geostrategi sangat penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, menjaga kedaulatan, serta memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA Khoirul Huda; Genes Arinta Pratiwi; Manahan Lubis; Nurlita Hawa
IJTIMAIYAH Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial FITK UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/ijtimaiyah.v9i2.27956

Abstract

Artikel ini membahas Pancasila sebagai sistem filsafat yang memiliki kedudukan sentral dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, tetapi juga sebagai pandangan hidup yang mencerminkan nilai-nilai universal bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yaitu menganalisis literatur terkait filsafat Pancasila, baik yang bersifat normatif, historis, maupun konseptual. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa hakikat Pancasila sebagai sistem filsafat terletak pada susunan sila-silanya yang hierarkis dan saling berhubungan secara organis. Melalui pendekatan filsafat, Pancasila dapat ditelaah dalam tiga aspek pokok, yaitu dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Dasar ontologis Pancasila menekankan keberadaan manusia Indonesia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki dimensi individual sekaligus sosial. Dasar epistemologis menegaskan cara bangsa Indonesia memperoleh kebenaran melalui musyawarah, rasionalitas, dan semangat kebersamaan. Sementara itu, dasar aksiologis Pancasila menekankan nilai-nilai etis yang menjadi pedoman dalam mewujudkan keadilan sosial, persatuan, dan kerakyatan. Dengan demikian, Pancasila sebagai sistem filsafat tidak hanya memiliki fungsi normatif, melainkan juga sebagai pedoman aktual yang relevan dalam menjawab tantangan globalisasi, modernisasi, dan penetrasi ideologi asing. Kajian ini menegaskan bahwa pemahaman filosofis terhadap Pancasila sangat penting dalam membangun karakter bangsa, menjaga identitas nasional, dan memperkuat integrasi sosial di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.