Latar belakang: Peningkatan konsumsi energi listrik pada gedung perkantoran bertingkat tinggi, khususnya di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia, menuntut penerapan sistem manajemen energi yang efektif, terukur, dan berkelanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Energy Management System yang terintegrasi dengan Building Management System dalam meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi karbon pada gedung perkantoran. Metode: Studi kasus dilakukan di kantor Shimizu Corporation di Gedung Trinity Tower Jakarta menggunakan data operasional aktual. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan analisis sebelum–sesudah implementasi EMS. Metode CUSUM digunakan untuk mendeteksi perubahan signifikan pola konsumsi energi dan divalidasi secara statistik menggunakan nilai-p. Selain itu, metode K-Nearest Neighbor (KNN) diterapkan untuk mengklasifikasikan pola konsumsi energi berdasarkan beban, waktu operasional, dan zona bangunan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah implementasi EMS. Hasil: Penerapan EMS-BMS menghasilkan pengurangan konsumsi energi listrik yang signifikan secara statistik, dengan nilai p [X] yang menunjukkan perubahan tersebut signifikan. Penghematan biaya listrik tahunan sebesar kurang lebih Rp 1,2 miliar, disertai dengan pengurangan sekitar 450 ton CO₂ per tahun. Analisis statistik intensitas konsumsi energi lebih lanjut mengungkapkan bahwa rata-rata biaya listrik bulanan kantor Shimizu Corporation adalah Rp 12.828.573 untuk area seluas 1.089 m², sehingga intensitas biaya sekitar Rp 11.800–12.000/m²/bulan. Intensitas biaya ini jauh lebih rendah dari rata-rata gedung perkantoran di Indonesia dan tetap kompetitif di tingkat regional Asia. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa integrasi EMS–BMS yang didukung oleh analisis CUSUM dan KNN tidak hanya meningkatkan kinerja energi secara teknis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan serta mendukung pencapaian target keberlanjutan.