Reno Novita Sari
Universitas Andalas

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANOMALI SEMANTIK DALAM BAHASA VERBAL PENDERITA SKIZOFRENIA Reno Novita Sari; Leni Syafyahya
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1030

Abstract

Anomali semantik merupakan salah satu ciri khas gangguan bahasa pada penderita skizofrenia dan dapat mencerminkan disorganisasi kognitif. Namun, kajian yang secara sistematis menyoroti anomali semantik pada tuturan penderita skizofrenia dalam konteks penutur bahasa Indonesia, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan jenis anomali semantik dalam bahasa verbal penderita skizofrenia. Data penelitian berasal dari video publik di YouTube Diman Khan TV dan Parti TV, ditranskripsikan secara verbatim, diseleksi, dan diklasifikasikan menurut jenis anomali semantik (dissonance, zeugma, pleonasm, improbability). Analisis dilakukan dengan mengaitkan bentuk bahasa dan maknanya, kemudian hasilnya divalidasi melalui pemeriksaan sejawat, sambil tetap menjaga privasi dan martabat subjek. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat bentuk anomali semantik, yaitu: 1) dissonance, tampak melalui kalimat yang bertentangan secara makna dan logis, seperti "...Gue aja tadi bangun pagi dari mati kemaren." ; 2) zeugma, terindikasi dalam pernyataan yang menghasilkan ketidakseimbangan makna, seperti ”Inih, lagi dibuat rumahnya sekalian kerajaan di balik daun sanah..”; 3) pleonasme, berupa penggunaan kata atau frasa secara berlebihan meskipun maknanya sudah jelas, seperti “gue benci itu beli-beli itu kalung terus dipake kalungnya dipasangin ke leher beli lagi.”; dan 4) improbability, tampak melalui penggunaan kalimat yang sangat tidak realistis atau mustahil, seperti “Aku punya rumah sendiri, di Amerika ini. Itu rumahnya  Presiden Amerika, Papahnya aku.”. Meskipun komunikasi dasar masih mungkin, kualitas interaksi sangat tergantung pada dukungan lingkungan, menekankan peran konteks sosial dalam memahami gangguan linguistik ini.
Forms and Types of Neologisms in the Speech of Schizophrenia Patients Reno Novita Sari; Ike Revita; Oktavianus Oktavianus
EDU-KATA Vol. 12 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Darul `Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/kata.v12i2.13237

Abstract

This study aims to describe the forms and types of neologisms in the speech of schizophrenia patients. This study used a descriptive qualitative method with a psycholinguistic approach. The data were spontaneous spoken utterances produced by schizophrenia patients in daily communication at Dr. Soeharto Heerdjan Psychiatric Hospital Jakarta and Prof. HB Saanin Psychiatric Hospital Padang. The data were collected through observation, direct conversations with patients, and natural conversations among patients and those around them. All data were recorded and transcribed. The data were analyzed by identifying the forms and types of neologisms based on the theories of Fish and Covington et al. The results showed that 48 neologisms were found in the patients’ speech. Word forms were more dominant with 33 data (68.8%), while phrase forms were found in 15 data (31.2%). Based on the types, idiosyncratic word use was the most dominant type with 28 data (58.3%), while true neologism was found in 20 data (41.7%). The dominance of word forms indicates that patients tend to use simpler, more spontaneous utterances in daily communication. Meanwhile, the dominance of idiosyncratic word use shows that most neologisms still have connections with common language through sound similarity, word combinations, and recognizable language elements, although the meanings are personal. This study shows that neologisms are not only a form of language disorder but are also used by schizophrenia patients in everyday communication.