Ambo Dalle
State University of Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Konseling Berbasis Budaya Lokal (Silahturahmi, Musyawarah) Dalam Mediasi Konflik Kasus Perundungan Di Lingkungan Sekolah Johar Amir; Ambo Dalle
Teladan: Jurnal Pendidikan Umum dan Karakter Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/jpuk.v1i2.38

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kedua nilai budaya tersebut dapat diintegrasikan sebagai strategi mediatif dalam penanganan kasus perundungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru BK, siswa pelaku dan korban perundungan, serta pihak sekolah sebagai informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi sesi konseling, dan analisis dokumen sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis Braun dan Clarke, dengan triangulasi sumber dan member checking untuk memastikan keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama: (1) Silaturahmi berfungsi sebagai mekanisme pemulihan relasi awal yang menurunkan ketegangan dan membangun rasa percaya; (2) Musyawarah menjadi ruang dialog egaliter yang memungkinkan validasi emosi, pertukaran perspektif, dan negosiasi solusi; dan (3) integrasi kedua nilai tersebut membentuk model konseling restoratif berbasis budaya lokal yang mampu memulihkan hubungan interpersonal serta mencegah berulangnya konflik. Temuan ini menegaskan bahwa nilai budaya bukan sekadar simbol tradisional, tetapi dapat dioperasionalkan sebagai strategi konseling efektif dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan konseling berbasis budaya lokal memiliki kekuatan dalam menciptakan proses mediasi yang lebih holistik dan berkesinambungan dibandingkan pendekatan disipliner. Penggunaan silaturahmi dan musyawarah tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun kembali kepercayaan, empati, dan rasa kebersamaan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, sekolah dianjurkan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ini dalam kebijakan dan praktik bimbingan konseling, serta memberikan pelatihan bagi guru BK untuk menerapkan pendekatan restoratif yang peka budaya.