Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Spasial Faktor Risiko TB Paru Di Wilyah Kerja Puskesmas Kota Tengah Kota Gorontalo : Spatial Analysis of Pulmonary TB Risk Factors in the Working Area of the Central City Community Health Center, Gorontalo City Sri Panessa Mantu; Herlina Jusuf; Tri Septian Maksum
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 3: Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i3.10694

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi, khususnya di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk besar. Peningkatan kasus TB paru menunjukkan perlunya pendekatan analisis yang tidak hanya melihat faktor risiko, tetapi juga pola sebaran kasus secara geografis. Analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi penting untuk mengidentifikasi klaster kasus dan mendukung perencanaan intervensi yang lebih efektif dan tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial kejadian TB paru serta hubungan faktor risiko lingkungan fisik (kelembaban udara, pencahayaan, ventilasi, suhu udara, dan kepadatan hunian) dengan kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah Kota Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif analitik dengan desain Cross sectional Study. Populasi adalah seluruh penderita TB Paru sebanyak 75 responden yang diperoleh melalui teknik Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner terstruktur dan Global Position System (GPS). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kelembaban udara (p-value = 0,024), pencahayaan (p-value = 0,004), ventilasi udara (p-value = 0,005), suhu udara (p-value = 0,016), dan kepadatan hunian (p-value = 0,024) dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah Kota Gorontalo. Disarankan pemanfaatan hasil analisis spasial sebagai dasar penentuan wilayah prioritas intervensi, peningkatan PHBS, dan penguatan skrinning aktif TB paru.