Rahman, Lalu Rifki
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DARI ISLAM ISOLATIF MENUJU ISLAM SOSIALIS; TELAAH ATAS GERAKAN PEMBAHARUAN MUHAMMAD IQBAL Rahman, Lalu Rifki
Bahasa Indonesia Vol 12 No 1 (2026): TEO-SUFISME
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/spiritualis.v12i1.2133

Abstract

Kemunduran peradaban Islam yang disebabkan oleh runtuhnya kekhalifahan Abbasyiah di Bahghdad memberikan pukulan yang kuat terhadap Islam. Selain itu, kemunduran dari faktor internal disebabkan oleh mejamurnya praktek zuhud yang menyebabkan ketertarikan umat muslim terhadap ilmu pengetahuan menurun, dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat dengan memasifkan praktek ibadah saja. Dengan fenomena beragama umat Islam tersebut, beberapa tokoh muslim hadir memberikan angin segar perubahan, salah satunya Muhammad Iqbal. Dalam tulisan ini, penulis menyajikan beberapa pandangan Iqbal terkait faktor kemunduran Islam, serta pandangannya terhadap gerakan pembaharuan yang ia konsepkan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan studi kepustakaan. Iqbal menjelaskan pemikirannya dalam buku monumentalnya yaitu The Reconstruction of Religius Thought in Islam, dalam upaya untuk melakukan pembaharuan terhadap Islam diperlukan basis spiritual yang kokoh. Selain berfokus pada kehidupan akhirat, umat muslim juga harus fokus pada kehidupan di dunia. Ia menjelaskan sebagaimana kecenderungan kelompok yang ia sebut sebagai Mystic Consciousness, sebagai kelompok yang enggan untuk melihat dunia disekelilingnya. Sedangakan kelompok Prophetic Consciousness, adalah cerminan dari tanggung jawab dan tugas seorang nabi, yang mengayomi dan menuntun umat pada kesejahteraan bersama. Selain itu, umat muslim harus menanamkan sikap dinamis, bukan statis. Bahwa Islam, menurut Iqbal, lahir dari semangat bergerak bukan berdiam diri. Sehingga, untuk melakukan gerakan pembaharuan selain basis intelektual, juga diperlukan basis spiritual.