Penelitian ini mengeksplorasi hambatan membaca Al-Qur’an pada siswa SMA Muhammadiyah 18 Jakarta melalui pendekatan fenomenologi untuk menggali makna pengalaman subjektif siswa dan guru dalam proses pembelajaran, dengan latar belakang bahwa banyak siswa masih mengalami kendala baik dalam aspek teknis seperti makhraj dan tajwid maupun aspek psikologis seperti rasa cemas, malu, dan kurang percaya diri. Penelitian menggunakan desain kualitatif fenomenologi dengan teknis pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui langkah fenomenologi Van Manen untuk menggali pengalaman hidup, merumuskan makna esensial, dan menyusun tema reflektif. Hasil menunjukkan kemampuan membaca siswa sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, pembiasaan mengaji, serta dukungan orang tua, hambatan internal meliputi kurangnya penguasaan makhraj, lupa kaidah tajwid, serta kecemasan performatif, sedangkan hambatan eksternal berkaitan dengan minimnya pembiasaan mengaji di rumah dan minimnya kontrol orang tua. Guru mengatasi hambatan tersebut melalui pemetaan kemampuan awal, pembinaan intensif, penggunaan Metode Iqra, dan strategi tutorial sebaya, sementara program sekolah seperti tadarus pagi dan Maghrib Mengaji turut memperkuat kemampuan membaca siswa. Penelitian menyimpulkan bahwa hambatan membaca Al-Qur’an merupakan fenomena holistik yang memerlukan kolaborasi guru, siswa, sekolah, dan keluarga serta berimplikasi pada perlunya strategi pembelajaran yang lebih humanis, spiritual, dan adaptif terhadap kebutuhan siswa.