This Author published in this journals
All Journal Attoriolong
Penta, Nurhaedah Herman
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tradisi Mappalili Ma’rang Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, 1980-2023 Penta, Nurhaedah Herman
Attoriolong Vol 23, No 2 (2025): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang Tradisi Mappalili Ma’rang di Kabupaten Pangkejene dan kepulauan (1980-2023), Perubahan Tradisi Mappalili Ma’rang, dan Pandangan terhadap Tradisi Mappalili Ma’rang. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti: menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahap yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil studi menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang Tradisi Mappalili Ma’rang di Kabupaten Pangkejene dan kepulauan (1980-2023) sudah dilaksanakan sejak lama oleh masyarakat Ma’rang. Adapun Pinati yang melatarbelakangi tetap dilaksanakannya Tradisi Mappalili yaitu Wa’ Katutu kemudian setelah beliau meninggal diteruskan oleh anaknya Pancana dan setelah beliau meninggal diteruskan oleh anaknya yaitu H. Muharik. (2) Seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi Tradisi Mappalili kemudian mengalami berbagai perubahan dalam pelaksanaannya. Pada tahun 2000 masyarakat ma’rang sudah tidak melakukan proses pembacaan Meong Palo Karellae dan adanya perbedaan kepercayaan antara masyarakat dengan lurah pada saat itu. Pada Tahun 2018 penggunaan kerbau sudah tidak digunakan dikarenakan sudah jarangnya kerbau sehingga diganti menjadi tenaga manusia. Pelaksanaan Tradisi Pada tahun 2021 mulai dihadiri oleh pihak Bupati, keturunan karaeng serta Mantan Maddo (pemimpin adat). Selain itu pelaksanaan Tradisi tahun 2022-2023 dilaksanakan dengan semeriah yang melibatkan guru serta murid di bonto-bonto. (3) Tradisi Mappalili Ma’rang memiliki beberapa pandangan dari masyarakat yang terlibat, tidak terlibat dan ulama terkait tradisi tersebut.