Setelah pandemi COVID-19, fasilitas produksi vaksin menjadi sangat krusial dalam sistem kesehatan nasional. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan standar kebersihan tinggi, teknologi efisien, dan keamanan biologis yang ketat. Sayangnya, aspek kemanusiaan di ruang bersih sering kali luput dari perhatian selama proses perancangan, karena fokus utama lebih pada teknis. Kajian ini bertujuan menganalisis kualitas arsitektur Gedung 37 Bio Farma sebagai pabrik vaksin nasional. Analisis fokus pada keterkaitan antara fungsi, teknologi, dan sisi kemanusiaan. Metode yang dipakai adalah kritik arsitektur kualitatif dengan pendekatan deskriptif, normatif, dan interpretatif. Analisis deskriptif mengamati kondisi fisik bangunan, tata ruang, material, dan alur staf dan material produksi. Analisis normatif menilai kesesuaian dengan standar CPOB BPOM No. 34 Tahun 2018 dan GMP WHO serta prinsip Vitruvius (firmitas, utilitas, venustas). Analisis interpretatif menggali pengalaman kerja di ruang bersih, tekanan psikologis dan interaksi manusia dengan sistem produksi biofarmasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Gedung 37 secara umum telah memenuhi persyaratan fungsi dan regulasi teknis. Dalam sisi pengguna, terutama terkait kenyamanan, psikologis, kualitas ruang transisi, dan hubungan antara area kerja ruang produksi dengan tempat istirahat masih memiliki celah. Kajian ini menekankan perlunya perubahan paradigma desain untuk fasilitas produksi vaksin agar lebih seimbang antara produktivitas, keamanan biologis, dan kesejahteraan manusia.