Latar Belakang: Resistensi antibiotik merupakan ancaman kesehatan global yang meningkat akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Orang tua memegang peran sentral dalam pengambilan keputusan pengobatan anak, sehingga tingkat pengetahuan dan sikap mereka menjadi faktor penentu dalam upaya pencegahan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap orang tua terhadap penggunaan serta resistensi antibiotik di Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian terdiri dari 146 orang tua yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Chi-Square ($p < 0,05$). Hasil: Dari 146 responden, mayoritas memiliki tingkat pengetahuan rendah (66,4%), diikuti pengetahuan tinggi (18,5%), dan pengetahuan cukup (15,1%). Sebaliknya, sebagian besar responden menunjukkan sikap positif terhadap penggunaan antibiotik rasional (86,3%), sikap cukup (13,0%), dan hanya satu responden dengan sikap rendah (0,7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ($p = 0,050$), tingkat pendidikan dengan sikap ($p = 0,041$), serta hubungan yang sangat signifikan antara pengetahuan dengan sikap ($p = 0,000$). Pembahasan: Temuan ini mengonfirmasi bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor fundamental dalam membentuk struktur pengetahuan dan sikap orang tua, sejalan dengan teori perilaku kesehatan. Meskipun sikap responden cenderung positif, rendahnya tingkat pengetahuan menunjukkan adanya risiko misinterpretasi dalam praktik penggunaan antibiotik sehari-hari yang dapat memicu resistensi. Simpulan: Mayoritas orang tua di Jakarta memiliki tingkat pengetahuan yang rendah namun memiliki sikap yang positif terhadap penggunaan antibiotik rasional. Diperlukan intervensi edukasi kesehatan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk menyelaraskan antara sikap positif dengan pengetahuan yang memadai guna mencegah penyebaran resistensi antibiotik.