Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Kadar Glukosa Darah Dengan Derajat Hipertensi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Januari- Desember 2024 Ragil Keyzsa
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1120

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik yang sering disertai dengan komorbiditas hipertensi. Meskipun keduanya memiliki keterkaitan patofisiologi, hubungan antara kontrol glikemik dan derajat keparahan hipertensi masih menunjukkan hasil yang bervariasi pada berbagai populasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kadar glukosa darah dengan derajat hipertensi pada pasien DMT2 di RSUD Koja tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) berbasis data rekam medis. Sebanyak 90 pasien DMT2 yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dalam studi ini. Variabel utama yang diteliti meliputi kadar glukosa darah dan klasifikasi derajat hipertensi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi $p < 0,05$. Hasil: Karakteristik responden didominasi oleh perempuan usia paruh baya, dengan distribusi tekanan darah mayoritas berada pada kategori hipertensi derajat II. Meskipun sebagian besar pasien memiliki kadar glukosa darah yang tinggi, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara signifikan antara kadar glukosa darah dengan derajat hipertensi pada sampel penelitian ini. Pembahasan: Tidak ditemukannya hubungan bermakna mengindikasikan bahwa derajat hipertensi pada pasien DMT2 dalam studi ini bersifat multifaktorial dan tidak hanya dipengaruhi oleh kadar glukosa darah sesaat. Faktor-faktor lain seperti durasi menderita penyakit, status fungsi ginjal, indeks massa tubuh (obesitas), serta kepatuhan terapi farmakologis kemungkinan memiliki peran yang lebih dominan, hal ini sejalan dengan variabilitas hasil pada beberapa literatur global sebelumnya. Simpulan: Kadar glukosa darah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan derajat hipertensi pada pasien DMT2 di RSUD Koja tahun 2024. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan variabel perancu lainnya untuk memahami determinan utama hipertensi pada populasi diabetik.