Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap Untuk Elektrifikasi Kereta Rel Listrik Jalur Jakarta-Surabaya Devrian, Rian; Ibrahim, Ali Herman
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 4 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i4.10623

Abstract

Kereta api memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, sekaligus menawarkan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dibandingkanalternatif lainnya. Namun, elektrifikasi jalur kereta di In donesia masih bergantung pada energi fosil. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap untuk mendukung elektrifikasi Kereta Rel Listrik (KRL) lintasan Jakarta-Surabaya melalui analisis kesesuaian teknis dan finansial. Kajian teknis dilakukan dengan menghitung rata-rata iradiasi matahari berdasarkan data dari NASA yaitu sebesar 56,459 kWh/m². Sedangkan estimasi luas atap pada bangunan pemerintahan di 14 kota sepanjang jalur, dengan asumsi pemanfaatan 25% dari total atap didapatkan sebesar 652578,3 m2, sehingga menghasilkan daya sebesar 482,68 MW per hari. Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk menunjang operasi Kereta Rel Listrik (KRL) semi cepat tipe TEMU 2000 Series dengan kebutuhan energi harian 81,2 MW. Aspek finansial dianalisis menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rateof Return (IRR), dan Payback Period (PP) pada skenario tingkat diskonto 10%, 12%, dan 14%. Perhitungan menunjukkan semua tipe kereta belum mendapatkan nilai yang dikarenakan pada NPV seluruhnya menhasilkan nilai negatif pada seluruh skenario, BCR pun < 1, IRR pun memilki nilai negatif dan periode pengembalian pada keseluruhan skenario memilki waktu lebih dari 25 tahun. Dengan demikian, implementasi PLTS atap pada elektrifikasi jalur Jakarta–Surabaya dinilai layak secara teknis namun tidak secara finansial, sehingga menjadi hal yang tidak dapat diimplementasikan secara ekonomi.
Technical and Economic Assessment of Tidal Barrage Power Plant at Ambon Bay, Indonesia Using Life Cycle Cost Analysis Nawawi, Achmad; Arifin, Zainal; Ibrahim, Ali Herman
TIN: Terapan Informatika Nusantara Vol 6 No 10 (2026): March 2026
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi (FKPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/tin.v6i10.9501

Abstract

Ambon Bay in Maluku Province possesses significant tidal energy potential due to its semi-enclosed morphology and favorable tidal characteristics, making it a promising site for tidal barrage power development in Eastern Indonesia. This study aims to evaluate the technical potential and economic feasibility of a tidal barrage power plant in Ambon Bay. Tidal energy potential was estimated using harmonic tidal data obtained from pasanglaut and the Marine Observation Research Agency (BROL), followed by energy conversion analysis based on tidal range and basin characteristics. The technical assessment was conducted using an analytical approach derived from hydrodynamic principles and benchmarked against existing tidal barrage systems. Economic feasibility was evaluated using the Life Cycle Cost (LCC) method, incorporating capital expenditure, operational costs, and Levelized Cost of Energy (LCOE), along with Net Present Value (NPV) analysis. The results indicate that Ambon Bay has a theoretical tidal energy potential of 31.05 GWh per year. A proposed 7 MW tidal barrage system could generate approximately 11.69 GWh annually with a capacity factor of 18.9%. The estimated capital cost is IDR 255,231,448 per kW, with an LCOE of IDR 15,324 per kWh. The economic analysis yields an NPV of -IDR 1,294,358,382,098.43, indicating that the project is not economically feasible under current conditions. These findings highlight that, despite its considerable technical potential, the development of tidal barrage power in Ambon Bay requires cost reduction strategies, policy support, or technological optimization to achieve economic viability.