Kehamilan trimester pertama sering disertai mual muntah (emesis gravidarum) akibat perubahan hormonal yang dapat mengganggu asupan nutrisi ibu. Aromaterapi peppermint merupakan salah satu pendekatan komplementer nonfarmakologis yang berpotensi meredakan keluhan tersebut. Menilai dampak Efektivitas aromaterapi peppermint terhadap tingkat mual muntah pada ibu hamil trimester pertama. Desain penelitian berupa kuasi-eksperimen dengan pretest–posttest dan kelompok kontrol. Sebanyak 32 ibu hamil menjadi sampel melalui consecutive sampling. Kriteria inklusi meliputi usia gestasi 8–12 minggu, kehamilan tunggal, dan frekuensi mual muntah tidak lebih dari 10 kali per hari (kategori non-hyperemesis). Kriteria eksklusi yaitu adanya komplikasi kehamilan seperti hyperemesis gravidarum, perdarahan pervaginam, serta alergi terhadap aromaterapi peppermint. Analisis data memakai uji statistik McNemar dan Fisher exact Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aromaterapi peppermint secara signifikan mampu mengurangi emesis gravidarum (p = 0,001). Skor PUQE di kelompok intervensi turun dari 9 menjadi 5 dengan pergeseran kategori dari sedang (75%) menjadi ringan (87,5%) (p < 0,001). Sebaliknya, di kelompok kontrol, skor PUQE hanya berubah dari 9 menjadi 8 (p = 0,500), sehingga tidak terdapat perubahan yang bermakna. Aromaterapi peppermint yang diberikan setiap pagi selama empat hari efektif membantu mengurangi emesis pada ibu hamil trimester pertama. Data ini menegaskan bahwa aromaterapi peppermint berpeluang menjadi metode komplementer yang praktis, aman, dan non-farmakologi, serta dapat diintegrasikan ke dalam perawatan antenatal rutin.