Otitis media akut (OMA) merupakan peradangan akut telinga tengah yang sering menyebabkan gangguan pendengaran konduktif sementara, dengan stadium klinis yang meliputi oklusi, hiperemis, supurasi, perforasi, dan resolusi. Gangguan pendengaran pada OMA secara teoritis diperkirakan meningkat seiring progresi stadium akibat penumpukan sekret, edema mukosa, dan perforasi membran timpani yang mengganggu transmisi suara. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh stadium OMA terhadap kejadian dan derajat gangguan pendengaran pada pasien OMA di Makassar. Penelitian menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap 20 pasien OMA yang berobat di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, RS Universitas Hasanuddin, RS Labuang Baji, dan RS Haji Makassar periode Maret 2024–Februari 2025. Sampel diambil secara total sampling dari rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi. Stadium OMA ditentukan dari temuan klinis dan otoskopi, sedangkan derajat gangguan pendengaran dinilai dengan pemeriksaan pure tone audiometri. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Sebagian besar sampel berjenis kelamin perempuan (70%) dan berusia 40–49 tahun serta ≥ 60 tahun (masing-masing 30%). Stadium OMA terbanyak adalah oklusi (45%) dan perforasi (40%), sedangkan derajat gangguan pendengaran yang paling sering adalah mild (50%) dan moderate (35%). Analisis bivariat menunjukkan nilai p = 0,650 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara stadium OMA dengan derajat gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran konduktif dengan berbagai derajat ditemukan pada seluruh stadium OMA dan tidak semata-mata ditentukan oleh stadium penyakit. Faktor lain seperti durasi inflamasi, jumlah dan viskositas sekret, serta respons individu kemungkinan berperan dalam menentukan beratnya gangguan pendengaran pada OMA.