"Saksi Mata" is presented as a representation of the political system in Indonesia, packaged philosophically. The story opens and closes with a distinctive tone and is rich in symbolism. Various satirical and dark jokes create an intriguing flavor. In the short story, speaking out for justice by giving testimony is merely served as a buffet for power. It's like livestock that are only allowed to speak when asked, in unison, and with one voice. Forced to bawl, even though in reality, the farm houses not only goats but also chickens, ducks, cows, and horses. When they don't obey orders, the farmer comes in to train them with a series of beatings, ultimately leading to death. Shielded by the equality of truth, created to achieve absoluteness, "Saksi Mata" is inserted into "Saksi Mata" a mirror fragment that has been carried since birth. Each shard is ensured to be evenly distributed. Down to the grain, it is guaranteed to be the poison of resistance. If the eyes and tongue have been confiscated, what remains are the hands and head, filled with memories of oppression. “Saksi Mata” dihadirkan sebagai representasi sistem politik yang ada di Indonesia dengan pengemasan filosofis. Cerita dibuka dan ditutup dengan warna yang khas dan sarat akan simbolik. Dengan berbagai bumbu racikan satire dan lelucon gelap menjadi cita rasa yang menarik. Dalam cerpen, menyuarakan keadilan dengan memberikan kesaksian hanya disajikan sebagai prasmanan perjamuan kekuasaan. Selayaknya hewan ternak yang hanya boleh bersuara ketika diminta, serentak, dan satu suara. Dipaksa untuk bisa mengembik meski pada kenyataannya, di dalam peternakan tidak hanya berisi kambing, melainkan juga ayam, bebek, sapi, dan kuda. Ketika tidak menuruti perintah, disitulah peternak hadir untuk melatih dengan sejumlah pukulan hingga berujung kematian. Bertamengkan pemerataan atas kebenaran yang diciptakan guna mencapai absolut. Maka dengan “Saksi Mata” diselipkannya pecahan cermin yang dibawa sedari lahir. Setiap serpihan dipastikan terbagi dengan rata. Sampai kepada butiran, dipastikan racun perlawanan. Jika mata dan lidah telah disita, masih tersisa tangan juga kepala berisikan sejumlah ingatan penindasan.