Tasawuf merupakan pusat dari Islam di Indonesia dan berpengaruh pada pesantren dan kelompok tradisional Islam Nahdatul Ulama (NU) yang menjadi basisnya. Dalam sejarah Islam, tasawuf memainkan peran sentral dalam penyebaran dan keimanan Islam, dan memiliki pengaruh yang besar dalam transmisi dan penyebaran Islam ke Indonesia. Dalam prosesnya, para ulama sufi dan tarekat sufi menjadi sarana utama dalam menyebarkan Islam. Para sufi, yang menyebarkan Islam ke Indonesia, menyebarkan Islam dengan para pedagang sambil melestarikan budaya lokal Indonesia dengan latar belakang budaya Hindu/Buddha sebanyak mungkin, dan berkontribusi pada Islamisasi Indonesia. Sufisme Indonesia menyebar dari abad ke-16 melalui Hamzah yang merupakan pelopor tasawuf, dan Walisongo yang merupakan pelopor Islamisasi Jawa, dan di zaman modern, melalui para sarjana sufi seperti Hamka. Tasawuf Indonesia menunjukkan karakteristik tasawuf Sunni dan tasawuf filosofis, dan di antara mereka, karakteristik tasawuf Sunni yang etis dan asketis dari Al-Ghazzali lebih kuat daripada karakteristik tasawuf filosofis mistik Ibnu 'Arabi. Karakteristik inklusivitas dan integritas yang muncul dalam proses transmisi dan penyelesaian Islam juga mempengaruhi penyebaran Islam secara luas di Indonesia. Tasawuf Indonesia mempengaruhi seluruh Indonesia melalui Pesantren dan NU, dan tasawuf Sunni berlanjut menjadi ajaran utama Pesantren dan NU. NU, yang secara positif merangkul tradisi budaya lokal, menunjukkan karakteristik moderat, dan mengupayakan Islam asli Indonesia. Misi kekristenan untuk Islam di Indonesia yang berbasis sufisme adalah bahwa misi melalui kehidupan inkarnasi, misi melalui kerja spiritual, dan misi sebagai bukti melalui dialog harus dilaksanakan secara holistik.