Jumlah kasus Tuberkulosis di Indonesia menurut laporan WHO tahun2015,diperkirakan ada 1 juta kasus Tuberkulosis baru per tahun (399 per 100.000 penduduk) dengan 100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan minum obat anti tuberkulosis (oat) sebelum dan sesudah pemberian alat bantu minum obat serta mengetahui pengaruh dari masing-masing alat bantu minum obat anti tuberculosis (oat) terhadap kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis di tiga Puskesmas. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 93 orang pasien TB dengan 3 metode alat bantu yang berbeda. Alat bantu minum obat yang digunakan untuk minum obat antituberkulosis (oat) adalah Aplikasi SembuhTB di Puskesmas Kebondalem, Jam Alarm di Puskesmas Rowosari dan Mojo, dan Kalender di Puskesmas Bantarbolang. Kriteria pasien yang diambil untuk penelitian adalah pasien usia 11 – 60 tahun dan mempunyai handphone android serta mampu mengoperasikan untuk yang aplikasi sembuh TB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat pada pasientuberkulosis di Puskesmas Kebondalem, Puskesmas Bantarbolang, Puskesmas Rowosari dan Puskesmas Mojo terjadi peningkatan sesudah pemberian alat bantu yaitu kepatuhan tinggi naikdari 29,03 % menjadi 59,14%. Aplikasi sembuh TB merupakan alat bantu yang paling efektif dibandingkan dengan alat bantu jam alarm dan alat bantu kalender. Hal ini didasarkan pada pengujian statistik uji lanjut diketahui aplikasi sembuh TB memiliki nilai mean rank tertinggi 64.32 dibandingkan dengan alat bantu yang lainnya diantaranya 53.09 untuk alat bantu jam alarm, dan 30.50 untuk alat bantu kalender.