Pemberian ASI secara eksklusif memegang peranan krusial dalam menunjang keberlangsungan hidup dan perkembangan optimal bayi, khususnya pada fase awal kehidupan yang menentukan. ASI tidak sekadar mengandung zat gizi lengkap untuk mendukung pertumbuhan, melainkan juga kaya akan senyawa aktif yang berperan sebagai benteng pertahanan alami melawan penyakit. Sayangnya, fakta menunjukkan adanya tren penurunan cakupan ASI eksklusif yang disebabkan oleh beragam faktor kompleks, mulai dari aspek individu ibu hingga pengaruh lingkungan sekitar. Studi ini dirancang untuk menganalisis korelasi antara pola pemberian ASI 6 bulan periode awal kehidupan dengan kondisi gizi pada bayi berusia 6 hingga 24 bulan dengan menggunakan desain cross sectional. Proses pengambilan data dilakukan melalui tiga metode utama: (1) wawancara terpandu, (2) pengisian formulir penelitian, dan (3) pengukuran fisik bayi mengikuti pedoman WHO yang ketat. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sebanyak 64,3% sampel menerima ASI eksklusif dengan mayoritas memiliki status gizi dalam kisaran normal. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara ASI eksklusif dengan indikator berat badan menurut usia (nilai p=0,032), namun tidak ditemukan korelasi signifikan dengan parameter tinggi badan menurut usia (p=0,786) maupun berat badan menurut tinggi badan (p=0,175). Temuan ini menyiratkan bahwa walau ASI eksklusif berperan dalam mencapai berat badan yang sesuai, pencapaian status gizi yang menyeluruh masih bergantung pada berbagai faktor pendukung seperti mutu makanan pendamping, riwayat infeksi, serta pola pengasuhan anak. Oleh sebab itu, diperlukan penguatan program promosi kesehatan yang bersifat menyeluruh, tidak hanya fokus pada pentingnya ASI eksklusif tetapi juga memperhatikan berbagai faktor penunjang lainnya guna mencapai status gizi bayi yang ideal.