Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya penguatan kompetensi sosial dan kepribadian guru sejarah SMA pasca-sertifikasi pendidik, meskipun sertifikasi dirancang sebagai instrumen peningkatan profesionalisme guru. Dalam praktiknya, sertifikasi lebih banyak berdampak pada aspek administratif dan pedagogik, sementara dimensi sosial dan kepribadian berkembang secara tidak merata. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada analisis penguatan kompetensi sosial dan kepribadian guru sejarah SMA bersertifikat pendidik di Kota Palangka Raya, termasuk faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penguatannya. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh pemahaman komprehensif mengenai penguatan kompetensi sosial dan kepribadian guru sejarah serta faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri di Kota Palangka Raya. Informan penelitian terdiri atas 16 guru sejarah bersertifikat pendidik serta Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi dengan menggunakan pedoman wawancara dan lembar observasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan metode, member checking, serta audit trail. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sertifikasi pendidik berperan sebagai pemicu awal kesadaran guru sejarah terhadap pentingnya kompetensi sosial dan kepribadian, yang tercermin dalam komunikasi yang lebih dialogis, empatik, dan reflektif. Penguatan dilakukan secara informal serta tidak ada pelatihan khusu terkait penguatan kompetensi sosial dan kepribadian. Penguatan kompetensi tersebut belum berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan. Faktor pendukung meliputi kesadaran reflektif guru, dukungan sekolah, dan forum MGMP, sedangkan faktor penghambat mencakup beban administratif, tekanan ekspektasi publik, kesenjangan generasi siswa, serta keterbatasan pembinaan lanjutan pasca-sertifikasi.