Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejauh mana kondisi likuiditas berperan dalam memengaruhi kinerja keuangan pada perusahaan farmasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2019–2023. Variabel likuiditas diukur menggunakan Current Ratio (CR), sedangkan kinerja keuangan dievaluasi melalui Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE). Objek penelitian terdiri atas lima perusahaan, yaitu PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), dan PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode analisis deskriptif serta komparatif, bersumber dari data sekunder berupa laporan keuangan tahunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada tingkat likuiditas maupun profitabilitas di antara perusahaan-perusahaan tersebut. KLBF secara konsisten menampilkan tingkat likuiditas tertinggi (CR 3,77–4,91) dan profitabilitas yang kuat (ROA 10,15–12,59% serta ROE 11,88–15,39%). DVLA dan TSPC menunjukkan CR pada level menengah (2,18–3,00) dengan profitabilitas relatif stabil (ROA 7,4–12,1% dan ROE 10,6–17,0%). Sebaliknya, KAEF dan INAF memiliki CR yang lebih rendah dan berfluktuasi (1,03–2,06), disertai profitabilitas yang lemah bahkan mengalami nilai negatif. Secara keseluruhan penelitian menyimpulkan bahwa variasi tingkat likuiditas berkaitan dengan perbedaan kinerja keuangan. Perusahaan dengan CR lebih tinggi cenderung memiliki ROA dan ROE yang lebih baik, mengindikasikan bahwa pengelolaan likuiditas yang efektif dapat berkontribusi pada peningkatan profitabilitas. Kata kunci : Likuiditas, Current Ratio, Kinerja Keuangan, ROA, ROE, Perusahaan Farmasi, BEI