Kebijakan publik berperan penting dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial, termasuk isu gizi yang tergolong dalam triple burden of nutrition di Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai kebijakan strategis pemerintah untuk meningkatkan akses pangan bergizi bagi kelompok rentan. Namun, implementasi program ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kualitas makanan, distribusi, dan penerimaan masyarakat yang belum merata. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan critical systemic thinking. Data diperoleh melalui studi literatur dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, artikel berita, dan dokumen kebijakan yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek efisiensi, program MBG memiliki potensi manfaat ekonomi meskipun masih diperdebatkan dari sisi anggaran. Dari aspek kecukupan, program belum sepenuhnya memenuhi standar gizi. Dari aspek perataan, distribusi program masih terpusat di Pulau Jawa dan menghadapi kendala di wilayah terpencil. Dari aspek responsivitas, program mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan akses pangan bergizi. Dari aspek ketepatan, MBG dinilai sebagai kebijakan yang lebih komprehensif dibandingkan kebijakan sebelumnya. Efektivitas program MBG dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kualitas implementasi, kesiapan infrastruktur, serta kapasitas sumber daya manusia. Pendekatan critical systemic thinking menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam mengintegrasikan berbagai perspektif dan mengatasi kompleksitas sosial yang ada. Kebijakan MBG berpotensi efektif dan layak untuk dilanjutkan, namun memerlukan perbaikan pada aspek kualitas, distribusi, dan pemerataan agar tujuan kebijakan dapat tercapai secara optimal.